Dalam Perjalanan Menjadi Anak Kebanggaan Orangtua, 7 Hal Inilah yang Akan Kamu Rasa

Dalam hidup, ada beberapa hal yang tidak bisa kita pilih sebagai manusia. Dititipkan pada rahim siapa, besar di keluarga macam apa, hingga jadi anak nomor berapa adalah salah satu contohnya. Tapi apapun keputusannya, sebagai anak tentu kita ingin terus berusaha jadi anak kebanggaaan orangtua. Sebab apa yang lebih indah dari melihat mereka tersenyum bangga?

Dalam proses menjadi anak kebanggaan orangtua banyak hal yang harus dirasa. Seperti perjuangan-perjuangan lainnya, membanggakan mereka tidaklah bisa membuat kita ringan menghela langkah. Ada pengorbanan yang harus dilakoni, ada kegigihan yang harus ditekuni saban hari.

Apakah kini kamu juga sedang berjuang untuk jadi anak kebanggaan orangtua, atau kamu adalah anak kebanggaan mereka yang sudah melewati proses panjang sebelumnya? Jika kamu orangnya maka hal-hal ini akan akrab terasa….

 

 

1. Bahkan saat hidupmu sedang terguncang dengan hebatnya kamu akan selalu berusaha tampak baik-baik saja. Kamu tidak ingin tampak limbung dan mengecewakan kedua orangtua

Kamu akan tampil baik-baik saja didepan orangtua

Menjadi anak kebanggaan itu seperti makan coklat. Kadang kamu merasa bahagia dengan rasa manis yang nikmat di lidah. Namun, sesekali kamu juga juga akan merasakan sedikit pahit.

Orangtuamu adalah manusia biasa yang dulu pernah punya mimpi yang belum lunas dicapai. Sebagai manusia yang terkadang berego tinggi tanpa sadar mereka membentukmu jadi pelari selanjutnya yang diharap bisa mewujudkan semua mimpi. Ayahmu yang dulu gagal jadi ABRI kini berharap mimpinya itu bisa terwujud padamu. Ibumu yang semasa muda tak bisa bermain basket karena kurang tinggi kini menginginkanmu menggeluti olahraga satu ini.

Salahkah mereka? Tentu tidak. Wajar sekali jika orangtua menitipkan serpihan diri dan impian mereka pada anaknya.

Tapi keadaan ini membuatmu harus pandai membawa diri. Kamu tidak lagi bisa seenaknya bercerita bagaimana sulitnya mata kuliah yang kamu hadapi, atau betapa badanmu sakit-sakit karena dihajar latihan fisik di sekolah militer yang terkenal sadis setengah mati. Bagimu kamu cukup pulang dengan membawa kabar gembira dan prestasi. Sisanya rasanya tak perlu diceritakan berpanjang-panjang lagi.

 

 

2. Harapan orangtua yang tinggi membuatmu bisa diandalkan sebagai pribadi. Dalam setiap masalah yang dihadapi kamu berusaha mencari jalan keluarnya sendiri

Menyelesaikan masalah sendiri

Sedari kecil kamu sudah dididik untuk jadi anak yang mengerti arti tanggung jawab. Orangtuamu tidak mudah turun tangan untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi.

Lupa PR dan harus dihukum di depan kelas? Jika orangtua lain akan datang untuk menjelaskan apa alasan di baliknya agar anaknya tidak dihukum guru maka orangtuamu akan membiarkan kamu menghadapi dampak dari perbuatanmu sendiri. Dihukum di depan kelas atau disuruh menulis 100 baris kalimat penyesalan harus kamu lakoni.

Seiring dewasanya dirimu kebiasaan bertanggung jawab akan terus terbawa. Kamu lebih memilih menyelesaikan permasalahanmu sendiri ketimbang merepotkan orang lain lagi.

Saat uangmu habis di akhir bulan, kamu akan lebih memilih kerja part time atau meminjam teman. Ketika kamu mendapat nilai C di sebuah mata kuliah, kamu akan berusaha mengulang atau mengambil remidi tanpa harus berlama-lama merutuki diri.

Demi jadi anak kebanggan orangtua tanggung jawabmu akhirnya terbentuk sedemikian rupa.

 

 

3. Perasaan dan pendapat orangtua selalu kamu pertimbangkan. Kamu tak bisa ringan mengambil pilihan sesuai keinginan

Kamu akan berfikir mendalam untuk memutuskan pilihan hidup

Menjadi anak kebanggaan seringkali memaksamu harus menuruti apa yang mereka inginkan, karena siapa lagi kalau bukan kamu?. Hal ini akan menjadi kegalauan yang panjang, jika ternyata keinginanmu dan keinginan orangtua saling bersebrangan. Mungkin kamu lebih suka menjadi seniman, tapi mereka dari dulu sudah sangat berharap kamu menjadi dokter. Mungkin kamu mencintai laki-laki pilihanmu sendiri, tapi mereka berharap kamu mendapatkan suami yang mereka idamankan.

Maka, setiap kali akan mengambil keputusan, kamu akan berpikir panjang. Karena menyadari bahwa mimpi bukan hanya milikmu sendiri, maka melibatkan orangtua dalam mengambil keputusan menjadi hal yang wajib kamu lakukan. Menjadi anak kebanggaan membuatmu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

 

 

4. Kebanggan dan kedekatanmu dengan orangtua tak jarang membuat saudaramu merasa cemburu. Menjaga hati mereka kini jadi tugas tambahanmu

Kamu berusaha menjaga perasaan saudaramu

Berproses menjadi anak kebanggan orangtua menjadikanmu dekat dengan Bapak dan Ibu. Ini tentu wajar, sebab mereka merasa nyaman dan bahagia dengan keberadaanmu. Anak yang selalu mendengar apa kata mereka, anak yang berusaha kuat demi mewujudkan mimpi-mimpi yang selama ini mereka punya.

Tapi bagaimana jika saudara sedarah merasa tak nyaman dengan keadaan itu? Bagaimana jika mereka merasa diduakan dengan kehadiranmu?

Mungkin kamu merasa senang, tapi kamu tak akan tenang jika saudaramu tidak mendapatkan hal yang sama denganmu. Banyak orang tidak tahu seberapa tidak enaknya hatimu atas perlakuan istimewa yang kamu terima.

Maka agar saudaramu tidak cemburu, kamu akan berusaha keras membuat dia mengerti. Kamu akan mulai memberi penjelasan pada saudaramu atau bersikap lebih mengayomi agar rasa cemburu tak muncul lagi. Karena bagaimanapun, bagimu keluarga bukan hanya orangtua, tapi saudaramu juga berhak mendapatkan kasih sayang yang sama.

 

 

5. Hidup kini bukan cuma soal dirimu dan mimpi-mimpimu. Beberapa mimpi harus menunggu, beberapa impian harus dikorbankan — sebab orangtua lah yang jadi acuan segala pencapaian

Mereka bahagia

Kebahagian orangtua itu kadang memang sederhana, yaitu melihat anaknya sukses sesuai doa yang mereka panjatkan setiap malam. Kamu merasa punya tanggung jawab mewujudkan itu semua agar mereka tak merasa kecewa. Maka tugasmu sekarang bukan hanya mewujudkan mimpi yang kamu ukir menurut pikiranmu sendiri, tapi membuat mereka bahagia atas harapan-harapan yang sudah dipendam sekian lama.

Mungkin selama ini kamu ingin menjadi peneliti, tapi kamu juga harus merelakan diri les musik demi harapan ibumu. Mungkin kamu tak suka bekerja di bank, tapi setahun atau dua tahun kamu rela menggeluti apa yang bukan menjadi passion-mu demi harapan orangtumau. Sesekali kamu harus berkorban untuk membuat senyum meraka tetap merekah.

 

 

6. Tak cuma sekali dua kali kamu bertanya, “Aku bekerja sekeras ini untuk siapa?” Dan setiap kali wajah orangtua terbayang di depan mata rasanya kamu sudah tahu jawabannya

Menjadi kebanggaan orangtua

Menjadi anak kebanggan tidak serta merta membuat hidupmu lebih mudah. Orangtuamu memang sering memujimu di depan keluarga lainnya, tapi justru pujian itu kadang semakin memberatkan langkah. Kamu takut gagal, kamu takut mengecewakan orangtua yang sudah memiliki harapan setinggi langit.

Akhirnya satu-satunya jalan yang bisa kamu tempuh adalah kerja keras tanpa kenal waktu. Kamu rela bangun hingga dini hari demi belajar agar IPK-mu tetap dalam batas aman semester ini. Kamu rela kehabisan waktu untuk nongkrong bareng teman dan bersenang-senang, karena kamu ingin Bapak-Ibu bangga melihatmu bisa masuk SMA favorit idaman mereka.

Tak cuma sekali-dua kali kamu bertanya, “Semua pengorbanan ini sesungguhnya untuk siapa?”

Dan ketika wajah orangtua terbersit di depan mata, rasanya kamu sudah tahu jawabannya. Ini semua demi mereka. Jika mereka bahagia maka habis perkara.

 

 

7. Semangatmu terlecut setiap membayangkan wajah dan pengorbanan mereka. Rasa perih dari perjuangan panjang ini rasanya tidak akan sia-sia, asal mereka bahagia

Mereka memilihmu untuk menjadi kebanggaan

Setiap orangtua selalu mengharapkan hal-hal baik terjadi pada anaknya. Mereka rela mati-matian mencari nafkah agar kamu bisa hidup layak dan bahagia. Mereka relakan kebahagiaan pribadi demi memenuhi semua kebutuhanmu. Setelah kamu dewasa, mereka pun berharap semua itu terbayar dengan kamu bisa menjadi orang sukses seperti apa yang mereka harapkan saat melahirkanmu dulu.

Rasa ingin menjadi putra kebanggan kadang terasa seperti “beban” yang harus kamu terima, namun kamu juga bisa memanfaatkannya sebagai pelecut untuk bisa melangkah lebih cepat. Rela berjuang demi gelar anak kebanggaan adalah wujud terima kasih yang kamu berikan pada orangtuamu. Karena itu artinya, kamu dilahirkan ke dunia dengan harapan yang tak kalah besar dengan usahamu untuk mewujudkannya.

 

 

Menjadi anak kebanggaan memang terdengar keren. Tapi di balik itu, sebenarnya kamu justru mendapatkan tugas tambahan sebagai anak yang harus bekerja lebih keras. Tanpa perlu harus merasa terbebani, memanfaatkan harapan dan doa dari orangtua bisa membuatmu menjadi semangat meraih mimpi.

Karena bagimu, bahagia bukan hanya milikmu seorang. Ada Ayah dan Ibu yang menunggu kabar baik darimu.

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s