Untukmu, yang Kelak Kupilih Jadi Suamiku

Artikel ini terinspirasi dari kisah @bopibakery. Pemenang hari 7 #30HariTerimaKasih Challenge. Hayo, sudahkah kamu cukup bersyukur hari ini?

Kamu kupilih dari sekian banyak pria di luar sana. Dengan rasional tentunya, setelah pertimbangan panjang bahwa kita bisa jadi partner baik untuk bercinta dan hidup bersama. Kamu kupilih sebagai pria yang nama belakangnya kusematkan di belakang nama. Dia yang dengan ikhlas kujamah dadanya sebagai bukti cinta.

Sementara kita belum bertemu, selama satuan bagi kita adalah waktu tunggu — ijinkan kali ini aku mengungkapkan harapan-harapan ini padamu. Pria baik, yang kelak kupilih jadi suamiku.

 

 

Semoga tanganmu cukup pejal untuk kugenggam. Semoga kau cukup sabar memelukku di ujung malam

Semoga tangan dan dadamu cukup lebar untuk menampung keluhan

Tidak mudah langsung melebur denganmu. Harus kutinggalkan kenyamanan dan hangatnya rumah di bawah atap kedua orangtuaku, kurelakan waktu bersama teman dan keluarga berkurang demi melewati malam bersamamu. Kamu perlu tahu, tidak ringan konsekuensi selepas memilih jadi pendampingmu. Tapi proses ini akan kujalani dengan hati tenang karena tanganmu bisa kutemukan dalam setiap langkah itu.

Satu yang pasti kuharap Sayang — semoga kamu cukup sabar menghadapiku. Tolong terima aku yang sesekali masih memasak keasinan, usap punggungku penuh sayang waktu PMS datang menghajar. Waktu malam datang dan aku merasa tercerabut dari akar dan keluarga — kuminta kau cukup sabar merentangkan lengan untuk memelukku lama.

Pada dadamu, kutemukan kata pulang. Pejal tanganmu membuatku yakin rasa ini tak pernah padam.

 

 

Kita akan mengajak anak-anak kita melihat dunia. Naik gunung dan membaca jadi kemewahan dalam rumah kita

Kelak naik gunung dan membaca akan jadi kemewahan di rumah kita

Berjanjilah, kelak anak-anak kita tak akan dididik jadi manusia gadget yang sibuk memelototi layar digital seharian. Bagi kita, membiarkan teknologi menjajah tanpa perlawanan adalah sebuah kekalahan. Meski digempur saudara yang menghujani putra putrinya dengan gawai canggih, kuharap kita akan tetap keras kepala bertahan pada prinsip yang selama ini dijaga.

Anak-anak kita tak akan memegang gawai canggih sebelum waktunya. Sebelum ia matang sebagai manusia otaknya tak boleh diisi oleh swipe kanan kiri dan keriaan virtual lainnya. Berdua, kita akan memberikan kebahagiaan berbeda. Sepekan sekali kita pergi bersama — mendaki gunung paling dekat dari rumah kita. Sebab di sanalah mereka belajar bagaimana kerdilnya hakikat jadi manusia.

Waktu malam tiba suara televisi tak akan memenuhi udara. Rumah kita hening. Anak-anak, kamu, dan aku berkumpul di ruang tengah untuk membaca. Buku, bagi kita terus jadi kemewahan nomor wahid di dunia. Saat marah anak-anak kita akan menyitir Pram — bukan cuma asal omong karena geram.

 

 

Berjanjilah kita akan menjaga kewarasan di tengah semua cobaan. Kita dipertemukan karena alasan, tak ada pengecualian untuk menyerah pada keadaan

Tak ada pengecualian untuk menyerah pada keadaan

Tentu saja sesekali kita akan bertengkar sengit. Saling menyalahkan, menuding satu sama lain, lalu bertukar argumen-argumen panjang. Dalam kesempitan macam itu keluar rasanya jadi opsi yang paling mudah dilakukan, tapi berjanjilah kita akan berusaha menjaga kewarasan berdua.

Saat kau sedang menyebalkan-menyebalkannya justru kupeluk tubuhmu yang sudah kuhapal hingga tiap incinya. Kau perlu tahu bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap cinta — tak peduli kau sedang berubah jadi pasangan yang keras kepala dan seenaknya. Ketika aku sedang banyak maunya, kuharap kau meletakkan tanganmu di pinggang lalu mengajakku bicara. Kau mau memahami letupan emosiku yang datang tiba-tiba, kau mengerti kemarahan bukan berarti hilangnya rasa.

Berjanjilah, kita akan terus berusaha jadi orang waras. Berdua.

 

 

Sampai saat itu tiba, semoga kita tetap berusaha saling menjaga. Dalam doa

Kita bertemu dalam doa dulu ya?

Jika memang sekarang semesta belum mengijinkan terjadinya pertemuan, ketahulah kita tak pernah saling meninggalkan. Doaku menyertaimu. Doamu pun, kuyakin menyayangiku.

Kita selalu bertemu dalam doa dulu ya, calon suami terbaikku?

 

Adakah rasa syukur lain yang ingin kamu ungkapkan pada calon pendamping masa depanmu?

 

Sumber : http://www.hipwee.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s