Bukan Sepasang Kekasih Namun Seperti Sepasang Kekasih – 1

Kita adalah dua orang rumit. Kita memilih menjalani hubungan yang sulit. Namun, itu tidak masalah bagiku. Sedangkan kau juga merasa begitu. Kita tidak memiliki status yang jelas. Kita hanya ditautkan rasa nyaman. Aku senang saat kau mampu membuat aku tertawa, bahkan sampai harus memegangi perutku. Katamu, kau suka setiap aku tersenyum. Ahh, kau memang suka menggoda. Dan aku selalu rindu caramu membuatku tersenyum.

Pernah suatu kali, aku bertanya kepadamu perihal apa tujuan kita. Kau menjawab dengan santai. Bahkan seolah tidak ada masalah sama sekali. “Kita jalani saja. Kalau kita bahagia, kenapa harus memikirkan hal yang aneh-aneh?” Aku berusaha menerima teorimu. Aku pikir, benar juga, kalau kita bahagia kenapa harus memikirka hal yang lain. Ucapan teman-temanku saja yang kadang masih terngiang di telingaku. Namun ya sudahlah, kalau memang kita saling nyaman. Toh, buat apa mendengarkan orang lain yang hanya bisa berkomentar? Yang menjalani kan kita..

Aku mengabaikan apa saja pendapat orang lain. Sudahlah.. Memang tak ada gunanya terlalu memusingkan pandangan orang lain. Hidup akan terlalu rumit jika hanya mendengarkan pilihan orang lain untuk hidup kita. Dan, memang benar kata orang-orang. Terkadang kita perlu bodo amat untuk beberapa hal. Agar kita tidak mati muda. Aku memilih menikmati apa saja yang kita rasakan. Menjalani hari0-hari denganmu. Semakin hari kita semakin dekat. Semakin terasa lebih dari sekedar teman. Hubungan kita makin dalam. Namun, aku tidak punya status yang jelas untuk menyimpulkannya.

Namun, semakin hari, semakin aku mencoba menenangkan pikiranku. Semakin aku mencoba untuk mempedulikan ucapan orang-orang, aku merasa semakin terombang ambing. Perasaan kian tumbuh. Kita melakukan hal-hal yang dilakukan orang berpacaran pada umumnya. Namun, aku tidak berhak menyebutmu pacarku. Aku tidak pantas mengakuimu pacarku kepada orang-orang. Semakin aku mengabaikan pikiran itu. Aku semakin dihantui oleh pertanyaan: Sebenarnya hatiku ini apa, kenapa seolah aku yang sengaja mempermainkannya ?

Perasaan itu terus tumbuh. Pada akhirnya aku semakjin terjebak pada kita yang tak jelas. PAda kita yang hanya teman, tetapi melebihi teman. Pada kita yang bukan kekasih, tetapi seperti sepasang kekasih. Hingga akhirnya aku harus mengakui. Aku tidak bisa lagi begini. Sebab, setiap dua orang yang sudah nyaman, memang selayaknya memperjelas apa yang sedang mereka jalani. Agar tidak ada lagi sesak atas ketidakjelasan ini..

 

-Dari buku “Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang”, Boy Candra-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s