Bukan Sepasang Kekasih Tetapi Seperti Sepasang Kekasih – 2

Malam ini saat aku sedang membaca sebuah buku, ada sebuah tulisan karya seseorang yang membuatku kembali mengingatmu (tulisan yang kumaksud adalah tulisan yang aku publish sebelumnya). Jujur serasa membaca kisah sendiri yang dibukukan. Kamu yang kini telah tak lagi bisa kumengerti, apa tujuanmu kini.. Kamu yang sepertinya tiada lelah terus mempermainkan perasaanku bersama waktu. Bangga ? Apakah itu yang kamu rasa saat bisa membuat hati banyak wanita (mungkin tak hanya aku yang ada dihati dan hidupmu) remuk redam atas perhatian, pujian, dan kata-kata manis lainnya yang telah menerbangkan hati ini hingga langit ketujuh, namun di lain waktu kau bisa tiba-tiba jatuhkan hati ini sejatuh-jatuhnya hingga hancur berkeping-keping. Tak jugakah kamu sadari sayangku ini masih untukmu, kamu yang telah menghadirkan lagi cinta dihatiku 8 tahun silam setelah luka itu. Atas nama kenyamanan cinta itu hadir. Setelah waktu terus bergulir tanpa kejelasan, aku memutuskan mengatakan padamu. Apa kamu tahu, tak mudah rasanya untuk aku mengakui hal yang menyiksaku itu.. Aku takut kita akan berbeda setelah pengakuan dan pertanyaanku itu padamu. Namun aku yakin, kamu bisa berpikir dan bersikap dewasa. Hingga kuputuskan bicarakan ini padamu di tahun keenam kita. Di sebuah cafe kecil berlampu temaram dengan alunan nada-nada indah menjadi pelengkap, menambah syahdu suasana kita. Tegang ? Takut ? Jelas pasti iya.. Entah harus memulai dari mana saat akan membicarakan itu.. Akhirnya kubicarakan semua itu, termasuk bukti kasih sayang dari Tuhan yang sedang kudapatkan yang biasa disebut cobaan, saat sisa hidupku sedang dipermainkan maut. Pertama kali kulihat airmata mengalir dipelupuk matamu, entah mengingat anggota keluargamu yang mempunyai cobaan yang sama atau kasihan padaku saat itu hingga kau sedih seperti itu. Dan saat aku mengatakan perasaanku, ekspresimu datar saja dan bilang kita nyaman seperti ini namun aku hanya teman untukmu karena kamu tak ingin berpacaran, kamu ingin berpacaran setelah menikah. Sedih ? Sakit ? Ehmm..aku tak tahu, yang kurasa hanya dingin membeku dalam percakapan itu. Mungkin waktu telah membuatku lelah akan kamu. Hingga jawaban kamu itu tak terlalu menggangguku. Namun mengapa kamu balik menanyakan, sayang macam apa yang aku rasakan padamu.. Mungkin sayang seorang adik pada kakaknya, katamu. Dan katamu wanita biasa mempunyai banyak / beberapa teman dekat lelaki, kau tak percaya bahwa kamulah satu-satunya dihatiku..<Hingga hari ini..detik ini.. :’) >

Aku tak tahu harus menjawab atas ketidakpercayaanmu itu. Aku memang mempunyai teman dekat laki-laki tak hanya kamu, tapiii hanya kamulah yang special dalam hidupku, dalam hari-hariku. Hanya padamu lah selalu ingin kusandarkan segala rasa keluh kesah suka duka hariku. Yang lain hanyalah sebatas teman..sebatas sahabat.. Namun biarlah bila kamu tak percaya,, biar waktu yang akan tunjukkan padamu. Dan sudah kukatakan padamu berkali-kali, jangan kamu bersikap seperti itu kepada para wanita. Seolah memberi harapan jika nyata’nya kamu tak ingin.  Wanita mudah jatuh pada harapan palsu.. Kamu yang memiliki kakak wanita, lebih mengertilah perasaan kami para wanita.

Saat ini kita masih berteman baik namun tak lagi seperti dahulu selalu bertukar kabar setiap hari, mungkin kini kamu sedang sibuk untuk meninggikan perasaan wanita lain. Aku hanya seorang teman sesaat bagimu kini, yang kamu cari saat kamu butuh saja. Bukan lagi orang terpenting untukmu. Bukan lagi orang yang kamu tanya saat kamu akan mengambil keputusan penting. Yaa, aku memang tak sepantasnya bisa protes. Heloo.. aku siapanya kamu ? Aku cukup bisa berkaca, sayang.. Kini pun, Jangan lagi menyanjungku dengan pujian mesra. Jangan lagi kamu gunakan emoticon mesra padaku. Jangan lagi sakiti hatiku lebih dalam.. Dengan susah payah aku ingin melupakan kamu yang tak inginkan aku. Jangan terus permainkan aku.. Hatiku tak sekuat itu. Telah kucoba dengan menyibukkan diriku  sesibuk-sibuknya namun malah kesehatanku yang drop. Telah kucoba kagumi orang baru yang bisa memperlakukan aku lebih manis, namun hati tak bisa dibohongi. Biarkan aku melanjutkan hidupku. Melanjutkan cerita cintaku yang berikut walau bukan denganmu. Biarkan saja rasa sayangku, penantianku dan sabarku ini menjadi sia-sia, bila memang itu cara yang terbaik. Aku telah menemani dan mengantarkanmu dalam beberapa fase penting hidupmu, perjuanganmu.. Kini terserah padamu, pada siapa kamu akan genggam tangan seseorang menikmati kesuksesanmu kini dan nanti. Dalam bait doa selalu kupanjatkan pada Sang Pencipta, agar kelak aku dan kamu bisa selalu bahagia walaupun tak selangkah bersama..

Sampai hari ini, setelah melewati tahun-tahun berikutnya setelah pembicaraan tsb. Aku masih menulis ini tentang kamu, semoga ini menjadi akhir cerita. Terima kasih telah membuatku merasakan “seperti” kekasihmu dan juga membuatku merasakan bukan siapa-siapa. Terima kasih telah mengajariku merasakan keabu-abuan hubungan ini. Semoga segera datang cerita berikut, dengan atau tanpamu ..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s