Di Balik Sosokku yang Mandiri dan Lebih Suka Sendiri, Aku Pernah Terluka Beberapa Kali

Selamat pagi mentari yang sedari tadi sayup-sayup menemani.Sudah lama sekali tak ada sapaan berarti di layar smartphone-ku. Sapaan yang pernah kurasa sangat istimewa hingga mampu memerahkan raut muka. Ah, sudahlah! Menatap wajah di cermin lebih membahagiakan dibanding menatap layar smartphone yang tak ada notifikasinya.

Dulu sekali, aku pernah dengan tiba-tiba terbangun di tengah malam. Dengan hati yang nyeri karena kecewa. Tak bisa digambarkan senyeri apa itu. Sekarang aku hanya terbangun jika hari sudah pagi. Sungguh sejuk jika dinikmati hawanya. Beranjak dari tempat berbaring, kubuka pintu dan kuhirup sebebas-bebasnya udara pagi tanpa rasa sesak di ulu hati. Bukan karena sakit, namun karena seseorang memenuhinya dengan kecewa dan emosi.

Tenang saja. Itu dulu, dulu sekali, dan aku tak ingin mengulanginya kembali.

 

 

Panjang cerita yang telah kulalui hingga kini lebih menyukai sendiri.

Sendiri yang sungguh banyak membuat orang di sekitarku iri. Mereka senang melihatku bahagia meski tanpa ada pendampingan sosok lelaki. Mereka iri dengan diriku yang tak merasa sepi dan jarang kecewa karena si dia ingkar janji. Menjadi diriku yang sungguh ringan ini, bukan dengan proses singkat. Aku pernah menjadi sebodoh-bodohnya wanita yang bergantung cinta. Itu poin yang harus kalian tahu.

 

 

Dulu sekali, aku pernah terlalu bergantung pada cinta.

Sebelum aku menjadi semandiri yang kalian kenal sekarang, aku pernah bergantung pada cinta. Sialnya, cinta yang salah. Dia membuatku luluh lantak tak berbentuk. Dia mendekat lalu pergi, merangkai janji, lalu hilang bagai ditelan bumi. Kini kubentuk ulang diriku seperti yang aku mau. Inilah aku sekarang. Kalian tak perlu iri. Aku telah melalui jalan yang memang sudah menjadi takdir Tuhan.

 

 

Bukannya sok mandiri dan tak butuh teman. Jika aku punya urusan, tak ada yang perlu ikut campur tangan.

Ke mana pun pergi, aku hanya sendiri. Tak ditemani adalah hal lumrah.

Selama aku bisa mengendalikan urusan pribadiku sendiri, aku tak mau merepotkan orang lain. Diriku yang dibilang terlampau mandiri kadang disebut sebagai pribadi individual. Padahal aku hanya ingin berusaha semaksimal mungkin untuk tahu batas kemampuan. Jika aku belum mengeluh, berarti aku masih mampu dan kalian tak perlu khawatir.

 

 

Dibilang sombong oleh lelaki sudah biasa dan tak perlu diambil hati. Mereka hanya belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Dibilang sombong oleh lelaki bukan hanya sekali. Sudah berkali-kali dan aku tak peduli. Aku punya alasan di balik sikap yang kuperlihatkan. Lelaki perlu diwaspadai. Aku menyadari, aku bukan sosok yang bisa dengan mudah didekati. Aku berhati-hati karena sebelumnya aku pernah disakiti bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Jadi, apa salahnya menjadi dingin dan mandiri. Nanti akan terlihat mana yang memang baik hati dan tak asal menilai.

Jika tak suka dan pergi, berarti dia belum mengerti.

 

 

Karena aku bisa hidup sendiri dengan banyak teman yang menyayangi, urusan pacar bisa dibahas lain kali.

Masalah hidup tak hentinya mengiringi langkah demi langkah yang dijalani. Layaknya manusia biasa, aku terkadang merasa lelah. Namun aku yakin, cobaan datang sepaket dengan penyelesaian. Kehadiran sahabat yang mampu menguatkan, sudah bisa jadi penguat di pulau orang. Tak perlu pacar jika hanya sebagai pengobat sepi. Tak perlu dibahas lagi. Aku belum sepenuhnya niat dari dalam lubuk hati.

Jadi untuk status lajang, kalian tak perlu bertanya. Aku belum punya penjelasan apa-apa.

 

 

Membuka hati kembali sudah pasti. Sekarang aku lebih fokus menjadi wanita mandiri yang berarti.

Sekarang bukan waktunya lagi membuang-buang energi. Masa muda yang hanya sekali ingin kumanfaatkan selagi ambisi masih tinggi. Masalah hati bisa dikompromikan lain kali. Sembari jalan nanti, pasti ada seseorang datang tanpa janji tapi bukti. Kini, jadi tenaga relawan dan sibuk berorganisasi. Siapa tahu tanpa perlu waktu lama bisa menjadi ahli.

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s