Untukmu Sebuah Nama yang Memilih Diam Tanpa Kata

Namun sebelumnya, entah bagaimana rencana dan rancangan Tuhan ketika Ia mempertemukan kita. Yang aku tahu, sejak pertemuan itu aku mengenal sosokmu yang sederhana. Dengan segala tutur katamu hingga membuatku terpikat. Kamu tanpa ragu untuk selalu berbagi cerita suka duka tentang kehidupanmu, begitupun sebaliknya denganku. Sesungguhnya aku tidak mengerti, walaupun aku tidak terlalu menengenalmu juga, sejak saat itu mata ini menangkap sosokmu. Aku tahu ruang hati ini seolah ingin menjelaskan sebuah rasa yang sempat aku lupakan namun tersentuh olehmu.

Dengan tanpa sengaja yang mungkin sementara kuartikan ini hanyalah sebuah perasaan yang mengagumi semata mata yang aku miliki kepadamu, hingga pada saat keadaan itu. Kamu memilih pergi dan menjauh tanpa memberikan alasan yang jelas kepadaku.

 

 

1. Sekarang kamu membiasakan diri untuk tidak menjadi kebiasaanku lagi

kamu tak menjadi kebiasaanku lagi

Hai kamu.. apakah kamu baik-baik saja di sana? Aku tahu setelah kejadian itu, kejadian yang mungkin mengecewakanmu dan melukaimu. Tanpa adanya penjelasan dariku yang membuatmu bingung dan terdiam. Dengan semua sikapku kepadamu saat itu. Ya “Diam tanpa Kata’’ itulah yang aku lihat tercermin didalam dirimu.

Aku tahu untuk saat ini kamu sudah membiasakan diri tanpa aku. Kamu sedang mencoba menikmati hidupmu yang baru. Aku pun begitu, sebenarnya aku juga ingin belajar menerima kenyataan. Kamu juga bukan orang yang mencerewetiku lagi kalau aku lupa makan. Kamu juga bukan lagi orang yang selalu mengganggu tidurku di malam hari. Kamu juga bukan orang yang peduli lagi untuk mendengarkan jikalau aku sedang terpuruk oleh masalah masalahku, bahkan saat keadaanku yang tidak mendukung pun hingga pada aku yang rentan jatuh sakit.

 

 

2. Seperti banyak kata orang-orang Keterbukaan adalah sebuah awal dari Pemulihan

keterbukaan merupakan pemulihan diri

Pada saat itu, dengan segala pertimbangan dan kondisiku yang tidak memihak kepadaku, aku sudah pergumulkan semuanya kepada Tuhan. Hngga aku  juga harus membawa namamu dalam setiap percakapanku denganNya. Dan bahkan segala cerita tentang aku, aku tidak memilih untuk terbuka kepada sembarang orang. Aku hanya akan memulai bercerita kepada mereka yang bisa kupercaya dan kuyakini.Dan bahkan diantara mereka semua itu adalah “kamu”.

Aku memilih bersuara dan bercerita karena aku yakin ini adalah sebuah proses penyembuhan diri yang mencoba untuk berdamai dengan segala cerita masa laluku . Aku yang mencoba memberanikan diri, karena aku tidak ingin terbelenggu oleh rasa bersalah kepadamu. Serta dengan seperti ini, aku bisa memperoleh sebuah kebebasan dan pertanyaan pertanyaanmu yang sempat membuatmu penasaran tentangku. Tanpa dihantui bayang-bayang masa lalu itu semua, dengan menceritakan apa yang sudah aku lewati. Segala keputusan yang aku miliki dengan sikap kerterbukaan ini adalah sebuah awal dari pemulihan. Karena pemulihan merupakan bagian dari kejujuran, dan kejujuran itu sendiri berasal dari ketulusan seseorang.

Disamping itu semua, hal ini juga aku lakukan agar kamu dapat memahami dan mengerti keadaanku saat itu juga.

Dan sekarang inilah aku… Seperti inilah aku…

Dengan membuatkan cerita seindah rencana Tuhan dan berdamai dengan masa lalu. Sesuatu percakapan yg selalu kubawa dalam tiap-riap doaku. Karena keterbukaan berawal dari sebuah pemulihan diri. 

 

3. Keputusanmu menjauhiku sempat membuatku tak mengenal siapa diriku sendiri

menikmati hari-hariku tanpa menjadi diriku

Namun kenyataannya, dengan tiap hitungan hari yang sudah terlewati dan waktu yang berjalan. Kamu tidak lagi bersedia berada di sampingku. Bahkan untuk sekadar berkabar saja kamu enggan. Sementara dulu, kamu adalah orang yang akan selalu membuka hari denganku walau hanya dengan sebuah kabar melalui via telepon bahkan melalui segala akun sosmed. Karena aku tahu segala keadaan jarak yang mungkin tidak mendukung.

Sekarang aku hanyalah orang yang mencoba membiasakan diri tanpamu. Menjadi orang lain. Bertemu teman baru, berkenalan dengan mereka, lalu bercerita perihal yang membuatku merasa tidak menjadi diriku. Aku tidak bahagia jika harus melupakanmu. Dan lebih tidak bahagia lagi dengan caramu menjauhiku. Namun, aku teramat paham. Aku saja yang tenggelam, aku tak akan mampu memaksakanmu untuk tetap diam bersamaku, untuk tetap menjadi seseorang yang memperjuangkanku, seperti dulu. Dan mungkin kalau saja ada hal baru telah membuatmu merasa aku adalah orang asing bagimu.

Dan aku barangkali hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang kau punya. Kau punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat. Sementara aku semakin hari semakin menguning. Pelan-pelan mulai digoyah oleh angin. Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan. Aku melayang-layang tanpa tujuan. Jatuh ke tanah. Lalu dipaksa menyerah.  Dipaksa iklas akan hal-hal yang tak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?

Bagaimana mungkin kau yang menabur janji, kini kau cabut sendiri. Kau seperti orang yang tidak mengenalku. Kau biarkan aku tertinggal dengan perasaan yang kau tanggalkan. Hati yang tak bisa bersama denganmu. Dan bagian tersakiti dari semua itu saat kau katakan, ‘kita ingin bersama‘. Namun tak mampu berbuat apa pun untuk itu semua itu. Dan daun yang kerap mendoakanmu agar bahagia ini, akhirnya harus sendirian menerima sedih dan mencoba berjuang sendiri merelakan semua kejadian ini.

4. Dengan segala ketidaksempurnaan ini, aku membiarkan diriku terluka untuk kedua kalinya

membiarkan diri ini terluka lagi

Beberapa tahun yang sudah terlewati, sebelum kita saling mengenal. Aku berjuang sendiri untuk berdamai dengan segala kepahitan masa lalu dan mengubur semua kenangannya. Sampai aku memberanikan diri untuk membuka hati kepadamu. Aku dikenal bukan dengan tipikal wanita yang  mudah untuk membuka hati pada setiap pria yang mencoba mendekati. Entah bagaimana keadaan merubahku, dan mengarah kepadamu. Hingga aku sempat berharap penuh. Bahkan dengan segala tindakanmu yang membuat aku semakin jatuh kedalam zona nyamanmu .Dan aku yang terbawa terlalu dalam, sampai pada saat aku lupa batasan-batasan dari sebuah pengalaman dari luka dimasa lalu.

Hingga pada saat itu juga, aku harus merasakan sakit untuk kedua kalinya. Mungkin kamu tidak merasakan bagaimana sesaknya. Bahkan untuk menanyakan keadaanku pada saat itu pula, kamu tidak peduli sama sekali. Mungkin juga kamu tahu bagaimana rasanya menjabarkan sedih, tidak akan cukup jika hanya sekedar kata pedih. Dengan segala hal hal kecil ini mampu membunuh kita dengan cara yang lebih besar, perlahan lahan dalam jangka waktu yang panjang.

Aku terluka untuk kedua kalinya… Aku terlalu menyiksa diriku…

Aku sempat lupa bahwa diri ini berharga… 

5. Namun dari kejadian ini, aku berterima kasih untukmu yang telah mengajarkan arti sebuah kedewasaan

terimakasih untuk semuanya

Mungkin dengan segala ketidaktahuan olehku, bagaimana aku harus menebus segala kesalahan kesalahan yang mungkin melukaimu sebelumnya. Sehingga kamu bertindak seekstrim itu terhadapku. Tanpa aku tahu semuanya. Pada keputusanmu pergi tanpa pamit lalu menghilang secara perlahan-lahan.

Terimakasih untukmu yang sempat hadir dalam hidupku. Kamu yang sempat membuat aku berharap dengan segala rasa nyaman yang kau berikan padaku. Lalu menjatuhkan aku kembali hingga pada sakit yang tak terkatakan olehku.Terimakasih untukmu yang dulu sempat selalu aku semogakan dalam setiap doa yang kupanjatkan kepada Tuhan.Terimakasih untuk indah cerita suka duka yang kamu bagikan kepadaku.Terimakasih untuk segala kebahagiaan sementara yang sempat kau berikan kepadaku. Terimakasih untuk setiap tawa yang selalu kau hadirkan dalam setiap cerita kita.Terimakasih sudah menawarkan masa depan kepadaku.Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu.Terimakasih untuk segalanya.

Aku hanya bisa menyampaikan sebuah pesan “permintaan maaf” melalui tulisan ini. Dan aku selalu berharap dalam setiap doa yang kupanjatkan, semoga kamu dapat dipulihkan olehNya. Mengerti alasan dari sikapku yang selama ini membuatmu menjadi sosok orang yang memilih bersikap “Diam Tanpa Kata” kepadaku.

Ada satu hal yang perlu kau ketahui dan ingat, semenjak kau hadir dalam hidupku itu sudah cukup merubah banyak hal tentangku dan sudah pasti paham betul akan hal itu.Namun kepergianmu pula yang membuatku banyak belajar. Tentang tanggung jawab, komitmen dan konsistensi.

Tapi dengan segala kejadian ini, kini aku sadar bahwa hal ini membuat aku mengerti arti sebuah kedewasaan. Hatiku sekarang sudah jauh lebih tenang. Kukembalikan kendali hatiku pada sang pemilik hati. Kukeluhkan semua tentangmu padaNya yang lebih tahu alur hidupku. Disini aku masih berjuang memenangkan hatiku, dan menatanya kembali. Tak da sedikitpun rasa penyesalan dihatiku, aku hanya ingin berdamai dengan segala keadaan ini.

Berbahagialah. Disini doaku masih akan selalu sama. Semoga Tuhan selalu menjagamu dalam setiap perjalanan cerita indah hidupmu dimasa yang akan datang.

 

Salam dariku,

Wanita yang tidak pernah bisa memilikimu, seseorang yang selalu mengagumimu dalam sendu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s