Sebelum Keburu Minder, Cowok Harus Tahu Isi Hati Cewek yang Sering Disangka Sempurna

Setiap cowok punya kriteria masing-masing untuk mendekati cewek. Ada yang punya kriteria berdasarkan fisik, pendidikan, dan keluarga.

Namun ada juga cowok yang punya kriteria unik, tidak mau diungguli banyak hal dari cewek.

Misalnya lebih kaya, lebih mapan, lebih pintar dan lain-lain.

Kalau cewek sudah dianggap unggul dalam segalanya, seakan tak ada cowok yang bisa mendekatinya dengan mudah.

Padahal, keinginan cewek-cewek ini sebenarnya sederhana.

Kali ini  coba merangkum isi hati para cewek yang seringnya dikira kelewat sempurna, sehingga bikin cowok minder untuk mendekatinya.

1. Kamu minder hanya karena kami punya mobil?

Jadi mindernya cuma gara-gara kami kemana-mana naik mobil?

2. Padahal, ini fakta yang kamu nggak tahu

 

3. Atau gara-gara kami yang kuliah di luar negeri?

4. Ini yang harus kamu tahu

5. Masalahkah kalau kami terlalu pintar?

 

6. Bukankah butuh ibu pintar untuk mendidik anak-anaknya kelak?

Bukannya baik ?

7. Pandangan kami soal pasangan sebenarnya sederhana

8. Kami bukannya tak punya kekurangan, kami hanya mampu mengeksplorasi kelebihan yang kami miliki

 

9. Kami cuma butuh sosok seperti ini

10. Bukan dia yang mundur sebelum berperang..

 

Jadi cowok-cowok masih mau minder ?

 

 

 

 

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com

Iklan

The Perks Of Nyemangatin Orang Paling Bisa. Tapi Hidup Sendiri Porak Poranda ~

 

Seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat saat tengah ada masalah.

Kadang mereka hanya butuh pelukan, telinga untuk didengarkan, dan

hati untuk memahami mereka.

-anonim –

Mungkin saat ini kamu tengah mengalaminya. Menyemangati teman yang tengah gamang dengan hidupnya, sementara pada saat yang sama kamu pun tengah butuh bahu untuk bersandar. Dengan kalimat bijak nan klise yang entah begitu saja mengalir dari mulutmu, kamu berusaha menguatkan temanmu. Meski tak begitu saja mereka terlepas dari kesedihan, setidaknya mereka merasa lebih lega dengan bercerita. Lantas apa kabarnya hidupmu sendiri yang kenyataannya tak berjalan baik-baik saja?

1. Kamu tak keberatan mendengarkan teman bercerita, kadang itu menjadi hiburan sederhana

Kamu tak pernah keberatan mendengarkan cerita mereka.

Mendengarkan cerita teman sama sekali bukan beban bagimu. Tidak ada yang memaksa, apalagi menuntutmu. Itu terjadi dengan alamiah. Entah diawali dengan tanya atau sapa, kamu pun mulai tenggelam dalam percakapan yang melibatkan emosi mendalam. Menyediakan telingamu sejenak untuk teman atau sahabatmu, justru menjadi kebahagiaan tersendiri buatmu. Bukan karena cerita mereka patut untuk ditertawakan. Namun, semata karena kamu senang mereka masih mempercayaimu untuk berbagi beban.

2. Kamu percaya bahwa selalu ada makna di setiap cerita mereka. Dari cerita yang mengharu-biru, hingga yang diselingi tatap mata bahagia

Hingga mereka yang diselingi tatap mata bahagia..

Pantang bagimu menganggap cerita orang lain adalah sampah. Terkadang kamu justru menemukan pelajaran hidup dari masalah orang lain. Kamu berusaha untuk memahami bagaimana rasanya berada di posisi mereka. Kadang kamu menghadapi teman yang terisak lantaran baru saja dicampakkan oleh pacarnya, tak jarang pula kamu menemukan wajah sumringah sahabat yang tengah jatuh cinta. Kadang kamu merasakan juga warna merah jambu dari lawan bicaramu, namun tak jarang kamu ikut terlarut dalam kesedihan mereka.

3. Saat lawan bicaramu tengah terpuruk, kamu berusaha semampumu untuk menguatkan mereka. Padahal kamu sama rapuhnya

Kamu berusaha menguatkan mereka.

Bukan untuk menampakkan dirimu seolah peduli. Tapi hati nurani yang membuatmu berusaha untuk menyemangati mereka. Bahwa hidup harus berjalan, pasti ada jalan keluar, hingga ungkapan klise lainnya, jadi ungkapan andalanmu saat menyemangati. Yang sebenarnya ungkapan itu ditujukan buat kamu juga. Karena kamu sama rapuhnya dengan mereka. Entah saat ini kamu tengah berpura tidak merasa ada masalah atau sebenarnya sengaja kamu tutupi dari orang lain.

 

4. Beruntung, kamu selalu pandai menyembunyikan masalah. Bukannya tak butuh bantuan, tapi kamu merasa nyaman menyimpan ini sendirian.

Kamu lebih nyaman memendam masalahmu sendirian.

Entah kenapa selama ini kamu selalu merasa bahwa lebih baik tak menunjukkan kamu sedang dalam masalah. Karenanya kamu selalu memastikan bahwa dirimu terlihat baik-baik saja. Kamu tidak menutupinya dengan tawa lepas, melainkan air muka yang biasa saja. Bahkan cenderung santai. Padahal kamu tengah memendam masalah keluarga yang tidak ringan. Masalah perkuliahan yang bisa berujung DO, atau bahkan terancam dipecat dari perusahaan. Yang sayangnya selalu berhasil kamu tutupi dari mereka.

5. Tapi pada akhirnya bebanmu menjadi tak terasa ketika mendapati masalah mereka jauh lebih rumit dari yang kamu punya

Ketika sedang menguatkan mereka, secara bersamaan kamu pun tengah menguatkan dirimu sendiri.

Yakin, loe bisa nyemangatin teman loe?

Hidup loe aja berantakan?

Yang terjadi justru sebaliknya. Kamu menjadi pribadi yang lebih bersyukur sebab masalahmu ternyata hanya remeh-temeh jika dibandingkan dengan problematika mereka. Seketika beban hidupmu berkurang setengahnya. Karena ngepuk-puk mereka sama saja dengan ngepuk-ngepuk dirimu sendiri.

6. Menjadi cheerleader orang-orang memang nggak mudah, apalagi di tengah kehidupanmu yang tengah porak-poranda. Tapi selalu ada alasan untukmu kembali mendengar keluh-kesah mereka

Semangaaaaat!

Kamu percaya bahwa jika berusaha membahagiakan orang lain, maka Tuhan pun akan membahagiakan dirimu. Karenanya kamu tak pernah bosan menyediakan telinga untuk teman-temanmu. Menyemangati teman walau hanya dengan ungkapan klise semangat ya Atau hanya sekadar memberikan becandaan garing, sekecil apa pun kamu berusaha membuat mereka tertawa.

Kamu nggak perlu menjadi orang yang paling bahagia di dunia untuk bisa menyemangati mereka. Seberat apa pun beban hidupmu saat ini. Sekecil apa pun kamu berusaha untuk membuat mereka tertawa

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com/

Perempuan Yang Dicintai Suamiku..

Sebuah Kisah Nyata Mengharukan Penuh Hikmah

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja..

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

Yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya..
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku..
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

============
Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin.. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario..
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,
Rima”

Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante…… aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”. Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

“Pesan” dahsyat buat para suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya…
Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri) untuk tetap mencintai suaminya…

Jangan Merasa Bersalah Saat Menjadi Ibu Bekerja Nanti. Anakmu Justru Akan Dapat 6 Hal Ini !

Antara menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya atau menjadi ibu rumah tangga yang juga bekerja tentunya merupakan pilihan setiap orang. Dan juga mungkin kesepakatan yang dibuat oleh pasangan. Tak ada yang salah dengan keduanya. Karena keduanya juga merupakan pilihan yang sama-sama baik. Tinggal bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi keluarga.

Jika ada di antara kamu, para wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja setelah menikah dan mempunyai anak, kamu tidak layak terburu-buru dicap menelantarkan keluarga. Sebab dibalik minimnya waktu untuk keluarga, banyak juga kebaikan yang bisa diajarkan kepada anak-anak oleh ibu yang bekerja.

 

1. Anakmu nanti akan terlatih untuk mandiri. Dari mengerjaan PR sampai menyiapkan baju sekolah sendiri

mengajarkan mandiri

mengajarkan mandiri

Bagi ibu yang bekerja, kemandirian tentunya hal utama yang diajarkan kepada anak-anaknya. Tanpa ibu yang selalu berada di rumah, anak-anak sejak dini diajarkan untuk bisa melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhannya sendiri. Seperti menyiapkan seragam sekolah, makan, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Semuanya dilakukan dengan kesadaran sendiri. Dengan cara ini, insting kemandirian mereka akan lebih terlatih sejak dini.

Namun meski mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya, bukan berarti ibu yang bekerja mengabaikan semua kebutuhan anak-anaknya. Sebelum mulai bekerja, kebutuhan anak-anaknya tentunya sudah disiapkan dengan baik. Sehingga pendampingan ibu yang bekerja tetap selalu ada.

 

2. Anakmu juga akan belajar darimu soal menghargai waktu. Waktu yang terbatas membuat kebersamaan bersama anak-anak menjadi lebih berkualitas.

kasih sayang selalu ada

menghargai waktu bersama

Setelah memutuskan menjadi ibu yang bekerja, konsekuensi pertama yang harus diterima adalah harus rela waktu yang berkurang untuk mendampingi buah hati. Ibu yang bekerja juga harus pintar untuk membagi antara waktu bekerja dan mengurus keluarga. Karena meskipun memutuskan bekerja, kebutuhan keluarga tetaplah yang utama. Tugas ibu pun tak ada yang bisa menggantikan.

Dari pengalaman ini, sebagai ibu yang bekerja kelak kamu bisa mengajarkan kepada anak-anakmu betapa pentingnya menghargai waktu. Setiap detik yang kamu lewatkan bersama anak-anakmu setelah berharga menjadi lebih berkualitas. Meski tak bisa selalu mendampingi, kamu harus tetap tahu kegiatan apa saja yang dilakukan anak-anakmu dalam satu hari.

 

 

3. Kamu juga mengajarkan bahwa kasih sayang ibu tak pernah luntur. Meski kuantitas waktu bertemu tak selalu teratur.

kasih sayang selalu ada

kasih sayang selalu ada

 

Tak hanya soal menghargai waktu, kamu juga bisa menunjukkan ke anak-anakmu bahwa sebagai ibu yang bekerja dan jarang di rumah tak berarti kasih sayangmu kepada mereka akan luntur. Ditambah pula dengan rasa rindu yang sering mendera saat berada di luar rumah. Seperti halnya kata pepatah, kasih ibu sepanjang hayat, hal ini juga berlaku bagi ibu-ibu yang bekerja.

Menjadi ibu yang bekerja bisa saja merupakan bentuk kasih sayang untuk anak-anaknya. Bekerja juga bisa menjadi bentuk perjuangan untuk membahagiakan anak-anak untuk hidup yang lebih layak. Ini juga bisa menjadi salah satu bukti bahwa kasih sayang ibu kepada anak-anaknya tak akan pernah lekang oleh waktu.

 

4. Pelajaran soal menentukan prioritas bisa sampai dengan baik kepada anak. Kamu sudah terbiasa memilih mana hal penting yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

pandai memilih prioritas

pandai memilih prioritas

 

Saat memutuskan untuk menjadi ibu yang bekerja, tentunya kamu dan pasangan telah memiliki pertimbangan tersendiri. Keputusan-keputusan penting untuk keluarga seperti ini, harus diambil dengan terlebih dahulu menentukan skala prioritas apa saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai ibu yang bekerja kamu juga akan terbiasa memilah hal apa saja yang harus dilakukan sebelum berangkat bekerja. Seperti menyiapkan sarapan untuk keluarga, menyiapkan kebutuhan suami dan anak sebelum berangkat ke kantor dan sekolah, serta mengantarkan anak ke sekolah. Semua harus diprioritaskan. Dari sini anak-anakmu akan belajar bagaimana cara menentukan prioritas sejak awal, karena mereka terbiasa melihatmu melakukan segala hal dengan efektif dan efisien.

 

5. Kelak anak-anakmu juga akan paham pentingnya bekerja sama dengan pasangan dalam membangun sebuah keluarga.

berumah tangga juga soal kerja sama

berumah tangga juga soal kerja sama

Saat seorang istri memutuskan bekerja, tentu ada persetujuan seorang suami dibalik keputusan tersebut. Meski penghasilan istri bukanlah yang utama menurut masyarakat kita, makna kerja sama selalu ada.

Hal baik ini tentunya tak boleh kamu lewatkan untuk diajarkan kepada anak-anakmu kelak. Nantinya mereka juga akan berumah tangga seperti ayah dan ibunya. Makna kerja sama dalam sebuah hubungan juga penting untuk diajarkan. Agar di masa depan mereka tumbuh menjadi pribadi yang menghargai orang lain.

 

6. Dengan melihatmu bekerja, anak-anakmu akan punya panutan saat mereka akan mengejar passion yang mereka ingini.

jadi panutan

jadi panutan

 

Selain untuk membantu finansial keluarga, keputusan ibu untuk bekerja juga biasanya didasari oleh upaya untuk mengejar passion. Karena meski telah menikah dan menjadi seorang ibu, passion tak harus begitu saja terkubur. Selama masih bisa membagi waktu dengan keluarga, bekerja tak selamanya menjadi keputusan yang buruk.

Hal ini bisa menjadi panutan bagi anak-anakmu ketika mereka telah dewasa nanti. Bahwa dalam mengejar passion selalu sarat dengan perjuangan dan tak mengenal kata menyerah. Mengejar passion juga soal kompromi, seperti halnya ibu bekerja yang harus tetap kompromi dengan kebutuhan keluarga dan karir.

 

Selama bisa membagi waktu dengan baik, ibu yang bekerja tak perlu terlalu sering merasa bersalah karena meninggalkan anak terlalu sering. Toh masih banyak kebaikan yang juga bisa diajarkan. Semoga pilihan yang diambil antara menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dan ibu yang bekerja benar-benar pilihan terbaik ya..

Karena Kalau Ada Batasnya, Ya Bukan Sabar Namanya…

“Kesel deh aku. Tuntutan klien tuh gak masuk akal. Mending kalau dia tahu maunya apa. Lah ini? Clueless juga.”

“Ya udah. Sabar yaaa…”

Anjuran untuk sabar sudah seperti gerai milk tea yang kini bisa ditemukan di mana saja. Dia datang dalam setiap kesempatan. Seperti jadi jawaban atas semua masalah dan kegundahan. Yeah, memang kata yang satu ini menyejukkan. Dia menguatkan — memberi harapan.

Namun seperti hal lain di dunia, haruskah sabar ini ada batasnya? Atau memang diainfinite — tak perlu batasan dan harus lapang bentuknya?

 

 

Sabar sebenarnya bentuk lain dari percaya. Yakin. Semesta tidak akan setega itu mempercundangi kita

Yakin. Semesta tak akan setega itu mempercundangi kita

Sabar, sebenarnya tidak lagi sesederhana menahan emosi. Berusaha tidak meledak setiap hal buruk menghampiri. Karena jika hanya ini yang diyakini berarti pemahaman kita akan sabar masih dangkal sekali. Seperti anak kecil yang sedang belajar menjumlahkan angka lewat bantuan jari, semestinya kesabaran tidak ditelan bulat-bulat macam ini.

Selepas makin banyak hal yang menghantam kedewasaan kita, ada anggukan kecil saat bicara bahwa sabar adalah soal percaya.

Sabar adalah membiarkan semesta mengatur jalannya.

Meski di dalamnya kita mesti berkali-kali menghela nafas dan menggaruk kepala.

Sabar, adalah tentang tak pernah melepaskan genggaman pada Yang Maha.

Meski kita belum tahu ke mana Ia akan mengarahkan langkah yang sedang dihela.

 

 

Untuk beberapa hal di dunia batas membuat kewarasan terjaga. Supaya kita tahu diri. Agar kita tak lupa menghargai diri sendiri

Batas membuat kita tahu diri. Agar tak lupa menghargai diri sendiri

Seorang kawan pernah mengingatkan saat saya jatuh cinta begitu dalam. Kata-katanya unik dan sampai sekarang masih terkenang,

“Walau cinta, tetap harus ada batasnya. Simpan tenaga. Siapa tahu dia pergi dan kamu harus bangun sendiri?”

Batas juga kembali muncul dan diamini dalam ikatan perkawanan. Konon persahabatan yang sehat adalah persahabatan yang tetap menghargai batas pribadi. Bebas memberi masukan, namun tetap membiarkannya jadi tangguh sendirian. Tetap harus ada sisi-sisi hidup yang tidak dibuka secara blak-blakan.

Konsep batas terlihat jauh lebih nyata saat kita bicara soal sebanyak apa harus memberi. Bahkan dalam urusan hati. Walau sedang sedalam itu menitipkan rasa kita mesti peka untuk membaca apakah yang dilakukan ini memang sepadan hasilnya. Jangan sampai stok di hati habis sia-sia. Sampai tak lagi yang tersisa bagi dia yang layak dibukakan pintu setelahnya.

Bagi beberapa hal di dunia, ‘batas’ memang membuat kewarasan tetap terjaga. Sebab sesungguhnya kita ini rapuh sebagai manusia.

 

 

Tapi sabar itu spesies berbeda. Dia datang dengan keanggunan yang membuat kita percaya — jika ada batasnya, ya bukan sabar namanya….

Jika ada batasnya, bukan sabar namanya

Sabar, anehnya punya charm yang lain dari biasa. Dia membuat kita percaya bahwa semua bisa dihadapi tanpa harus melibatkan derap kencang di dada. Sabar, membuat hati ini dua kali lebih lapang dari biasa. Bahkan saat otak dan hati sinkron mood nya dia bisa berubah jadi lapangan golf yang sangat luas penampangnya.

Setiap rasa ingin menyalahkan keadaan datang, setiap jeritan di hati mulai menuntut untuk didengarkan — kesabaran membuat segalanya teredam. Umpatan yang bisa terdengar sangat tidak menyenangkan kembali sanggup ditelan.

Maka, saat rasa tidak mampu muncul. Atau ketika merasa lelah sekali dan ingin mundur — hati ini seharusnya sudah lebih peka untuk diajak bekerjasama. Dia semestinya jujur menjawab pertanyaan sederhana.

Sudahkah kita benar-benar sabar? Apakah kesabaran ini sudah benar?

 

Sebab seharusnya kesabaran yang baik tidak membuat kita menyerah begitu saja. Kesabaran yang sesungguhnya membuat hati kita jadi perasa. Tidak kebas dan menutup mata pada tantangan yang memang harus dihadapi jika ingin lulus sempurna jadi manusia dewasa.

 

Jangan jadikan sabar kambing hitam untuk semua bendera putih yang kita keluarkan. Karena sebenarnya jika tidak bisa sabar sampai terurai masalahnya — ya bukan sabar namanya :)

Bersabarlah,, Hanya Sedang Jatuh Saat Ini..

Kamu lupa

Seperti orang mati rasa belakangan. Pulang kantor, kuliah, pulang kerumah, buka laptop mengerjakan tugas, tidur hanya 2 – 3 jam, bangun, beranjak kekantor , bekerja, pulang, kuliah. Sudah.

Di tengah waktu “jaga kandang” siang ini, tiba-tiba lagu ini terputar di aplikasi pemutar musik. Aku tersenyum. Familiar sekali rasanya. Dan, membebaskan. Otak pun jadi lebih lancar berselancar di atas keyboard demi menuliskan pikiran yang berkecamuk di kepala, menuntut minta segera dikeluarkan.

Tentu saja aku ingat bagaimana tampangnya waktu menirukan lagu ini. Betapa kita sempat memuji bagusnya  vokalis yang hingga kini namanya tetap tak kamu tahu. Mengingatnya memang membuat rindu. Tapi mengkhidmati rindu ternyata jauh lebih baik dibanding berusaha menghapusnya dari jejak kehidupan. Seperti yang dengan jumawa kamu lakukan beberapa saat ke belakang.

Menerima kenyataan memang tidak mudah. Berbahagia atas kebahagiaannya juga tidak bisa dilakukan tanpa payah.

Namun menghapusnya, menutup segala akses informasi dari dan padanya juga tidak membantu memperbaiki keadaan.

Yang ada, aku justru jadi orang linglung yang kerap merasa hilang arah.

Legowo, nduk. Legowo. 

Perjuangan ini bukan lagi tentangnya atau mengalahkan siapapun demi memenangkan hatinya. Tidak. Ini tentang aku, tentang bagaimana aku bisa menerima kenyataan.

Tentang bagaimana aku harus meletakkan diriku dalam kompartemen “lalu” tanpa harus sering melongokkan kepala lagi ke dalamnya. Aku tidak lagi peduli padanya. Walaupun itu dusta. Aku masih sangat peduli padamu. Hanya saja, kini aku tahu bahwa peduli tidak harus diungkapkan lewat kata-kata ataupun temu.

Aku yang sekarang memang aku yang kalah saing, merasa tidak punya hal yang membuat aku bisa dicintai, banyak menyakiti, dan sedang tidak percaya kalau aku bisa jatuh cinta sedalam itu lagi. Pahit ya ?

Tapi, aku yang dipenuhi kepahitan ini juga pribadi yang sama yang sedang belajar untuk jadi orang lebih baik, lebih ikhlas, lebih bermanfaat, lebih bahagia — tanpa atau dengan ada pasangan yang mendampingi.

Kepahitan ini akan jadi manis nanti. Pada masanya..  :’) ..Aamin..

 

 

Mengintip Jatuh Bangun yang Cuma Dialami Oleh Mahasiswa Komunikasi

~ Baca artikel ini jadi senyum-senyum sendiri ya.. Makanya aku mau share juga nih (mungkin ada yang sepenanggungan juga), tulisan seorang teman dari group sebelah. Begini,, Aku yang notabene seorang karyawan swasta yang juga baru hampir 2 semester sedang menjalani menjadi mahasiswi komunikasi, emang ngerasain banget hal-hal dibawah ini. Tugas-tugas yang menyita waktu (apalagi aku sambil kerja kan,jadi waktu tuh benar-benar limited banget deh. Hufhhh sambil jalani kuliah rasanya pengen deh sehari lebihin dari 24 jam..Kurangg, buat menjalani semua ini *kerja dikantor, tugas kantor, meeting, kuliah, ngerjain tugas individu, ngerjain tugas kelompok, ngerjain tugas paper pribadi, ngerjain tugas kuliah di lapangan – yang wawancara, yang ini, yang itu..) Tapi..semakin kesini berusaha enjoy dan jalani aja, asyik juga kok.. 🙂  Nah.. buat yang selama ini nanya-nanya, kenapa sih kamu ambil jurusan komunikasi, kaya belum bisa berkomunikasi saja. Heii liat deh banyak banget yang kita mesti pelajari untuk bisa berkomunikasi dengan baik guys karena semua bidang itu butuh komunikasi.. Seperti sedikit cuplikan artikel ini :

Awalnya, kamu bingung kenapa harus belajar filsafat dan sejarah di jurusan Komunikasi. Sekarang, kamu tahu bahwa ilmu yang baik bukanlah ilmu yang mengkotak-kotakkan, tetapi ilmu yang menghubungkan. Menghubungkan satu bidang ke bidang lainnya, satu wacana ke wacana lainnya.

(halah. tapi serius nih.)

Belajar Ilmu Komunikasi membuka wawasan kamu soal HAM, kebebasan berekspresi, toleransi, dan berpikiran terbuka. Kamu baru sadar kalau ternyata organisasi butuh komunikasi. Kalau komunikasi erat kaitannya dengan pemasaran. Kalau pemasaran, psikologi, dan komunikasi bisa harus dipelajari secara bersamaan. Kalau untuk berkembang, tidak cukup berkutat pada satu bidang.

Ok, Let’s read this article guys.. 🙂

 

Siapa yang memiliki informasi, dia yang memegang kendali. Mungkin itu kenapa banyak anak muda yang berambisi kuliah di jurusan Komunikasi. Bahkan, beberapa tahun terakhir ini Ilmu Komunikasi jadi salah satu pilihan jurusan terpopuler di Indonesia. The new cool thing gitu, deh.

Tapi masuk Komunikasi gak serta-merta bikin kamu kayak Pak Jakob Oetama atau Effendi Ghazali. Ada asam garam akademis yang harus kamu telan: disangka gampang tugasnya, gak jelas kuliahnya, sampai konon sulit cari kerjanya.

Tapi tetap aja, di antara semua duka itu, yang kamu rasakan hanya gembira. Lah, kok bisa? Iya. Memang cuma mahasiswa Komunikasi yang paham gimana bisa bahagia belajar di jurusan seperti ini:

 

1. Jika banyak orang kuliah biar gampang kerja, anak Komunikasi hanya menghidupi cita-cita masa kecilnya.

Sebenarnya kamu cuma mengejar impian masa kecilmu

Banyak anak Komunikasi yang akhirnya masuk jurusan ini karena pas kecilnya kebanyakan nonton berita. Dunia Dalam Berita di TVRI, lebih tepatnya.

 

2. Impian mereka? Supaya bisa jadi anchor atau jurnalis terkenal!

Agar bisa jadi anchor

Walaupun di masa kecil kamu sering nonton berita, sebenarnya sih yang kamu suka bukan isi beritanya. Para anchor di TV-lah yang bikin kamu terpana. Arief Suditomo, Desi Anwar, Jeremy Teti, Ira Kusno…yah, kalo sekarang semacam Marissa Anita atau Tim Marbun gitu deh. Kamu pun bertekad: kalau besar, kamu mau jadi kayak mereka.

Atau mungkin dari kecil kamu suka baca koran dan memoar perjalanan wartawan kayak Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Idealisme mereka bikin hati kecilmu membara. (Gila, ada bener gak ya anak kayak gini.)

 

3. Bisa juga, kamu berambisi masuk Komunikasi karena penasaran sama iklan di TV

Penasaran sama iklan

Awalnya, kamu terpesona karena jingle iklan yang sangat mudah diterima telinga. Jargon iklannya pun bisa berputar di kepalamu hingga berhari-hari, padahal iklannya sendiri cuma berapa detik. Lama-lama kamu pun penasaran gimana sebuah iklan dibuat.

Sama kayak iklan, film juga bisa menyihirmu. Rasanya seru membayangkan gimana kerennya dirimu saat bisa memproduksi, menyutradarai, atau menjadi penulis naskah sebuah film. Kamu pengen kayak Stanley Kubrick, Alfred Hitchcock, Usmar Ismail dan Garin Nugroho yang bisa menyihir orang lain lewat karya-karya mereka. Itu mimpi besar sih, tapi ‘kan bukan dosa juga.

 

4. Mungkin juga kamu masuk Komunikasi karena (dalam pikiranmu) itu cool aja

Keren aja gitu

Mungkin karena stereotip, kamu beranggapan anak-anak Komunikasi itu gaul-gaul semua. Pinter ngomong, bisa bawa diri, dan kalau cantik atau ganteng bisa jadi artis. Padahal sih sebenarnya nggak juga.

 

5. Tapi, ada juga anak yang masuk karena mengira kerjaan mahasiswa Komunikasi adalah merakit ponsel. What?!

Bikin handphone??!

Lah? Komunikasi? Maksud kamu “telekomunikasi”, kali!

 

6. Ketika kamu utarakan niat untuk mengambil Komunikasi, orang tua bertanya: “Itu Kuliah Apa Sih, Nak?”

Jurusan Akuntansi belajar pembukuan, hitung-hitungan, pajak, dan sedikit ilmu wiraswasta. Jurusan Kedokteran belajar anatomi, virologi, sampai etika biomedis. Jurusan Komunikasi belajar apa?

 

7. Pertanyaan berikutnya yang diluncurkan: “Kalau udah lulus, emangnya bisa jadi apa?”

Mau jadi apa, Nak?

“Kamu mau bisa nulis? Memangnya sekarang kamu belum bisa nulis? Terus Papa ngajarin apa dulu pas kamu kecil?

Mau pinter bicara? Lah, memangnya sekarang belum bisa bicara?”

 

8. Tapi Pak, Bu, kuliah itu buat nyari ilmu, bukan buat nyari kerja!

Santai terus...

Udah pintar ngeles bisa menyampaikan maksud seperti itu, berarti kamu punya bakat alamiah buat kuliah di jurusan Komunikasi! Kamu pun makin yakin dengan masa depanmu.

 

9. Kamu ngebet langsung kuliah aja, sampai lebih mentingin SNMPTN daripada UN

Separuh pikiran udah di jurusan komunikasi

Padahal kamu harus lulus UN dulu baru bisa ikut SNMPTN. Semangat!!

 

10. Setelah menunggu sekian lama, kamu dapat kepastian bahwa kamu DITERIMA!

Yeeeeey! Aku diterimaaaa! Pa, Ma! YEEEY! Masa depanku cerah!

 

11. Deg-degan plus penasaran, kamu semangat datang di kelas pertama

Kelas pertamanya kayak apa, ya?

 

12. Kamu udah gak sabar banget mau belajar tentang iklan, film, jurnalisme, public relations, TV, dan media baru.

Ibu, perhatikan aku Ibu!

“Bapak, Ibu, jadikan aku pembawa acara terkenal! Jadikan aku penulis handal calon pemenang Pulitzer! Jadikan aku fotografer seperti Darwis Triadi! Aku siap belajar di bawah sayapmu dan cahaya pelitamu!”

 

13. Sayangnya, kamu tidak tahu kenyataan sebenarnya. Kamu tidak tahu apa-apa.

Ini kitab wajibmu.

Bukannya belajar soal metode penulisan naskah film atau teknik-teknik dasar wawancara, di semester awal kamu justru bakal dihajar mata kuliah “Sejarah Sosial dan Politik Indonesia” dan “Pengantar Ilmu Politik”. Semangatmu pun langsung pudar.

I didn't sign up for this!

Kamu pun sadar ini semua gara-gara jurusanmu tergabung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hah. Kamu gak tahu apa ini keuntungan atau kutukan.

 

18. Realita mengejutkan berikutnya adalah dosenmu tidak (setidaknya belum) mengajarkan hal-hal yang kamu tunggu-tunggu

Kenapa malah di sini?

Untungnya, selain mata kuliah ilmu politik kamu juga mulai diajarkan ilmu komunikasi yang sebenarnya. Tapi apakah disini kamu bakal diajarin skill mewawancara? Mengambil gambar? Mengerjakan desain grafis? Memproduksi siaran?

TIDAK!

Kamu malah akan dapat kuliah soal sejarah, teori, dan analisis. Nama-nama mata kuliahmu:

  • Pengantar Ilmu Komunikasi
  • Perkembangan Teknologi Komunikasi
  • Filsafat Ilmu dan Logika

 

19. Setelah satu semester berlalu, kamu tersadar bahwa jurusan ini di luar ekspektasimu

(agak) di luar ekspektasi

Ilmu komunikasi jauh di luar bayanganmu selama ini. Dan pastinya sangat jauh dari bayangan orang-orang yang gak kuliah Komunikasi sama sekali.

 

20. Kamu pun mulai bertanya-tanya…

Hm...

“Gue salah jurusan kali ya??”

 

18. Tapi ilmu nggak peduli pada kegamanganmu. Tetap ada bertumpuk-tumpuk buku yang wajib kamu selesaikan.

Belum satu semester

Namanya juga mahasiswa, ya harus baca buku juga! Mau gak mau kamu mulai berkenalan dengan nama Harold Laswell, Denis McQuail, Habermas, dan Littlejohn.

Padahal mungkin kamu gak pernah baca buku-buku setebal ini sebelumnya. Palingan juga kamu baca Golden Boy.

 

21. Anyway, jujur aja. Pas pertama kali dengar nama Littlejohn di kelas, kamu pasti membayangkan wajah ini…

Ini Lil Jon Namanya

 

22. Biar kami bantu, ini baru yang namanya Stephen W. Littlejohn…

Littlejohn

 

23. Semakin lama kamu belajar di jurusan ini, semakin berat juga tuntutannya!

Tugasnya mulai praktik

Akhirnya, setelah semester pertama terlewati tugas bersifat praktikum datang juga. Kamu mulai harus menulis berita. Kamu mulai diajari bagaimana memegang kamera.

Tapi bentaaar….kok tugas fotografi, produksi siaran, produksi iklan, dan produksi majalah barengan ya? Kapan kamu tidurnya? Hahahahaha.

 

24. Setelah bertahan cukup lama di jurusan Komunikasi, kamu mengerti bahwa ilmu yang baik adalah yang mengeksposmu pada berbagai macam topik

Eksposure ke berbagai topik

Awalnya, kamu bingung kenapa harus belajar filsafat dan sejarah di jurusan Komunikasi. Sekarang, kamu tahu bahwa ilmu yang baik bukanlah ilmu yang mengkotak-kotakkan, tetapi ilmu yang menghubungkan. Menghubungkan satu bidang ke bidang lainnya, satu wacana ke wacana lainnya.

(halah. tapi serius nih.)

Belajar Ilmu Komunikasi membuka wawasan kamu soal HAM, kebebasan berekspresi, toleransi, dan berpikiran terbuka. Kamu baru sadar kalau ternyata organisasi butuh komunikasi. Kalau komunikasi erat kaitannya dengan pemasaran. Kalau pemasaran, psikologi, dan komunikasi bisa harus dipelajari secara bersamaan. Kalau untuk berkembang, tidak cukup berkutat pada satu bidang.

 

25. Pengetahuanmu meluas dan ketertarikanmu pun muncul di bidang-bidang yang lebih beragam

Bertemu banyak orang, ketertarikanmu makin luas

Dulu, kamu gak pernah kepikiran bakal menikmati bikin iklan. Mungkin kamu masuk Komunikasi karena bercita-cita kerja di koran. Dulu kamu nggak tertarik sama yang namanya Komunikasi Politik. Sekarang bidang ini jadi cita-citamu. Sepanjang Pilpres 2014 kemarin, misalnya, kamu asyik banget mengawasi kampanye masing-masing calon.

 

26. Dampak “buruk”-nya sih…kamu jadi ragu ketika harus memilih konsentrasimu~~

Awalnya ingn jadi humas malah kepincut jurnalistik

“Mana nih yang mau diambil? Jurnalisme, public relations, periklanan?”

*harus shalat istikharah dulu*

27. Gak jarang, yang tadinya pengen jadi PR malah ngambil jurnalisme. Yang niat jadi jurnalis, malah masuk periklanan~~~

Bakal pisah, deh

Pindah-pindah “aliran” udah jadi hal yang lumrah bagi mahasiswa Komunikasi. Biasa, tuntutan jurusan. Kita ‘kan harus luwes dan gampang adaptasi gitu.

 

28. Itu baru penjurusan. Kita belum bicarain skripsi, ya…hahaha…

Gampang?

Orang anggap skripsi Komunikasi itu gampang. Bro, padahal nggak juga Bro. Butuh riset dan waktu penelitian yang panjang. Nggak jarang bisa sampai bertahun-tahun, lho!

 

Status sebagai mahasiswa Komunikasi membuatmu sering menerima komentar absurd dari orang lain

 

30. Pertama, mereka akan mengkritisi penampilanmu “Wah, anak komunikasi ya? Tapi muka kamu kok gak kayak anak Komunikasi? Kurang ganteng/cantik!”

Siapa bilang kami hedon?

Sungguh kejam! Masa anak komunikasi distereotipkan dengan penampilan ganteng atau cantik, gaul, sukanya hedon. Harusnya mahasiswa komunikasi juga dilihat sama seperti mahasiswa lain, dari prestasi dan karyanya!

 

31. Lalu teman-teman non-jurusan Komunikasi akan bilang: “Udah Kuliah di Komunikasi Masih Aja Gak Jago Ngomong…

Berkomunikasi itu bukan cuma dengan berkoar-koar di depan publik

“Kalau ngomongnya sembarangan kayak situ, semua orang juga bisa!!!”

Lagipula siapa yang pernah bilang ilmu komunikasi sama dengan terapi bicara? Ada banyak saluran buat manusia untuk menyampaikan pesan, bukan cuma berkoar-koar doang.

 

32. Bila ketemu kenalan baru pasti kamu disangka pintar pidato di depan publik

Emang benar kami dibekali skill public speaking, tapi bukan itu saja yang kami pelajari

Bapak dan Ibu yang terhormat, semua orang bisa pidato tanpa harus kuliah di jurusan komunikasi dulu.

 

33. Menjadi mahasiswa komunikasi, kamu juga sering disematkan predikat negatif. Selain dibilang suka hedon, kamu juga dikira punya ilmu berbohong

Ini contoh creative brief buat anak-anak iklan, apa pernah kami diminta bo'ong?

Sodara Jauh : Ambil kuliah jurusan apa?

Mahasiswa Komunikasi : Ambil ilmu komunikasi, om.

Sodara Jauh : Wah ilmu berbohong, dong!

Mahasiswa Komunikasi : Lho kok bohong om?!

Sodara Jauh : Itu iklan, isinya bohong semua. Yang bikin ‘kan anak komunikasi

Mahasiswa Komunikasi : Untung kita cuma bersaudara jauh, om!!! (diucapkan dalam hati seperti sinetron GGS)

 

34. Kreatif kok dibilang bohong?!!!

Kreatif dibilang bohong

Please, tolong bedakan antara metode komunikasi yang persuasif dan berbohong. Berbohong itu kalau kita mengungkapkan fakta yang tidak sebenarnya. Saat sebuah fakta yang diungkapkan dibungkus dengan kreativitas agar terlihat lebih menari, ini adalah upaya kami untuk meyakinkan orang lewat metode komunikasi yang persuasif.

 

Emang ada-ada aja anggapan orang soal mahasiswa Komunikasi, padahal yang kami kerjakan di kampus itu ini, lho…

 

 36. Kamu Wajib Mempertajam Analisamu Soal Fenomena Komunikasi Sehari-Hari

Udah biasa...

Untungnya kamu tinggal di Indonesia, negara di mana fenomena sosial, politik, ekonomi, dan hukum selalu bisa dilihat dari bingkai komunikasi. Tinggal nonton TV 10 menit, kamu udah dapat bahan buat menulis esai. Memang terdengar simpel, tapi jika ini dilakukan setiap hari selama 4 tahun? Bisa-bisa muntah koran kamu!

 

37. Memahami Hukum dan Etika Media di Indonesia Sebelum Menulis Berita

Hukum dan Etika

Lalu membandingkannya dengan negara lain hanya untuk mengetahui bahwa praktik media massa di negaramu is sh*t as hell.

 

38. Gak Banyak yang Tahu Kalau Mahasiswa Komunikasi Harus Meriset Pasar dan Mempelajari Demografis Konsumen. Proses ini Membuatmu Harus Berhari-Hari Brainstorming dan Gak Pernah Tidur Lebih Dari 4 jam

Macam-macam orangnya

Semua itu dilakukan hanya demi kalimat, “Oke, nice” dari dosenmu. Fyuuuuhhhh~

*kemudian langsung hibernasi*

 

39. Bikin Iklan Itu Juga Nggak Semudah Menjentikkan Jari

Bukan soal photoshop doang

Proses menciptakan iklan berdurasi 30 detik:

  • Memahami brief dari dosen
  • Cari ide yang sesuai
  • Bikin script
  • Cari talent
  • Proses produksi yang menguras tenaga
  • Editing yang penuh tantangan, sampai harus berkonflik sama teman satu kelompok
  • Pitching ke dosen
  • Belum tentu dibilang bagus

NAH LHO, ITU BARU BIKIN IKLAN SETENGAH MENIT LHO. GAMPANG HMMM? GAMPANG?

 

40. Biarpun masuk jurusan sosial, masih jarang orang tahu kalau di Jurusan Komunikasi juga ada praktikumnya

Standar siaran

Bukan praktikum fisika atau kimia yang melibatkan tabung reaksi. Di jurusan komunikasi ada praktikum siaran televisi, siaran radio, fotografi dan praktikum jurnalistik.

 

Bukan cuma saat kuliah, sesi brainstorming juga terus kamu lakoni saat sudah menjadi pencari kerja. Harus pinter-pinter putar otak biar bisa diterima

 

41. Jadi anchor, jurnalis, atau reporter ternyata tak semudah yang kamu kira

Tina Talisa dulunya dokter gigi

Gak percaya? Liat aja Tina Talisa yang latar belakang pendidikannya dokter gigi. Najwa Shihab, anchor ternama itu juga datang dari Jurusan Hukum. OOOH, KENAPA KALIAN MENGAMBIL LAHAN KAMI. KENAPAAAA????

 

42. Ikut ujian CPNS, kamu juga menggantungkan harapan pada lowongan yang dilabeli untuk “Semua Jurusan”

Berjuang...

Bahkan Kementertian Komunikasi dan Informatika aja gak bisa kamu harapkan sebagai benteng perlindungan terakhir.

 

43. Bekerja di bidang media dan dunia kreatif juga bukan berarti minim perjuangan. Masih harus ikut training dan belajar lagi

Belajar lagi deh

Kayaknya ijazah kamu cuma buat legitimasi pemanggilan wawancara kerja, deh.

 

Jadi, masuk Jurusan Komunikasi Itu Banyak Dukanya Dong?

 

44. Eitss, jangan salah. Seberat apapun perjuangan kamu menjadi mahasiswa dan lulusan komunikasi, kamu gak pernah menyesali pilihanmu

No regret

45. Menjadi Mahasiswa Komunikasi Membuat Kamu Jadi Orang yang Selalu Berpikir Kreatif

Selalu mencoba melakukan secara kreatif

 

46. Belajar di Jurusan Komunikasi membentukmu jadi pribadi yang berpikiran terbuka. Kamu tak lagi mudah mempercayai satu sumber informasi, selalu ada media lain yang bisa jadi bahan pembanding

Berpikiran terbuka

 

47. Komunikasi membuatmu berani menyelami bidang-bidang yang selama ini gak pernah kamu sentuh sebelumnya

Udah gak canggung lagi baca statistik

Di jurusan ini kamu mencoba untuk memahami pasar, mengerti cara berpikir manusia, mempelajari psikologi dan melek hukum. Mahasiswa komunikasi memang dituntut untuk punya kemampuan adaptasi selicin belut. Harus tahu banyak dan mau terus belajar banyak hal.

 

48. Lingkungan Pertemanan Di Jurusan Komunikasi Juga Asyik. Kalian Selalu “Guyub” , Kalau Ada Teman Yang Berprestasi Satu Jurusan Girang Bukan Kepalang

ITU TEMEN-TEMEN GUE!!!

 

49. Belum lagi jajaran dosen yang melihat mahasiswanya sebagai teman belajar, bukan sekedar anak didik

Selalu muda

Mereka berusaha keras untuk tampil fresh dengan bergaul dengan anak muda, selalu up to date karna gak mau ketinggalan dari mahasiswa, dan gak jarang beberapa dosen komunikasi lebih senang dipanggil dengan sebutan “mas”, “bang”, atau “mbak”.

 

50. Apapun Persepsi Orang, Menurutmu Jadi Anak Komunikasi Itu Nyenengin. Kalian Punya Kemampuan Untuk Mengarungi Dunia Dengan Santai

Selow, yang penting video kita jadi

Ada tugas menulis? Nanti aja, tunggu menit-menit terakhir dikerjakan. Dosen nanya mau ujian tertulis atau take home? Ya, take home-lah!!! Anak komunikasi juga gak kenal dengan yang namanya dress code. Kamu percaya bahwa berpakaian rapi gak ada hubungannya dengan isi otak kamu.

Selow~ yang penting tugas jadi.

 

51. Jurusan Komunikasi memberikan ruang bagimu untuk terus mengembangkan diri

Anak-anak kreatif

Belajar di Jurusan Komunikasi itu gak ada titik berhentinya. Kalau kamu mau bertahan, kamu harus terus belajar untuk membaca tren dan mengikuti keinginan pasar.

 

52. Tugas-Tugas yang Berat Tapi Mengasyikkan Membuatmu Terus Merasa Tertantang

Tugas menantang itu asyik

Begadang bikin film, menggodok ide untuk iklan, sampai menulis news feature itu sama sekali gak gampang. Tapi selalu ada kepuasan setiap kamu menghasilkan suatu karya. Selalu ada kebahagiaan saat informasi yang kamu sampaikan ternyata bisa membawa perubahan bagi kehidupan orang yang menerimanya.

 

52. Banyak orang bilang kuliah Komunikasi itu isinya hura-hura? EMANG IYA! Kami bisa berhura-hura, karena kami bahagia menjalaninya!

Mau dibilang kuliahnya gak jelas, cari kerjanya susah, tukang bo’ong, mahasiswanya pemalas dan sebagainya kamu gak pernah menyesal kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Suasananya yang rame tapi tetap santai, anak-anaknya yang kreatif serta dosen-dosen yang lumayan “gaul” dan melek teknologi membuatmu bersyukur udah memilih jurusan yang sesuai dengan selalu dipandang sebelah mata namun sebenarnya punya pengaruh besar dalam arus informasi, pemasaran dan penyelesaian konflik.

 

Anak-anak komunikasi sini tos dulu dah!

 

 

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com