10 Alasan Mengapa Wanita Cerdas Justru Banyak yang Jomblo

Sekarang, wanita single yang berangkat ke kantor dan memiliki rumah sendiri rasanya sudah bukan hal yang istimewa lagi. Selain itu, perempuan-perempuan mandiri ini juga cukup berprestasi dalam karirnya. Banyak temanmu atau bahkan kamu berada dalam situasi ini. Memiliki pekerjaan tetap dan memiliki penghasilan sendiri sehingga kamu tak perlu bergantung kepada orangtua.

Ibaratnya, perempuan semacam ini adalah “PAKET” lengkap. Namun biasanya, perempuan seperti ini mengalami kesulitan dalam mencari pasangan yang tepat.
Pasti dari kita bertanya-tanya, kok bisa? Nah inilah alasannya..

1. Bagi mereka, lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah.

sindrome-de-hard-800x480-397d8f6badbf2a4793ad01712ff14ef5.png

Mereka tahu ada hal yang lebih baik daripada hidup dengan ketakutan karena menjalin hubungan dengan orang yang salah. Tidak peduli bagaimana pandangan orang mengenai status yang entah kenapa sampai sekarang masih sendiri saja.

2. Terlalu banyak pertimbangan mengenai “orang yang tepat”

girl-alone-roof-city-morning-hd-wallpaper-6c4160cdbc1f12792a172e870681c22e.jpg

Bagi mereka, pasangan yang cocok adalah pasangan yang 50:50. Yaitu mengerti bagaimana bertindak secara cerdas dan juga mampu untuk memperlakukan mereka dengan lembut. Perlu banyak pertimbangan bagi mereka untuk menentukan apakah seseorang benar-benar pas untuk mereka atau tidak.

3. Ketika mereka berkata untuk (sementara) lebih pilih sendiri — Mereka benar-benar serius pada keputusannya.

turned-to-non-mainstream-aesthetic-girls-2a03120ffe43df6ba35c3d35e6e6ccde.jpg

Mereka mampu untuk membagi ruang dalam hidupnya untuk tinggal bersama dengan seseorang suatu hari nanti. Meski sebenarnya dengan sendiri pun mereka juga merasa bahagia.

4. Mereka terlalu asyik mengejar apa yang disukai.

girl-s-home-6-8403fff74d02390ba70a1fb67e52be3d.jpg

Mereka sibuk. Sibuk mengejar hal-hal yang mereka sukai, hal-hal yang mereka citakan dan mereka tak selalu memiliki waktu untuk berkencan dengan teratur. Padahal berkencan adalah salah satu hal utama untuk menemukan pasangan yang tepat.

5. Mereka tak akan serta-merta bergantung pada seseorang ketika telah memiliki seseorang.

bnntwg-2aue-anh-q-tran-9d504d01542e476f6082628564930a43.jpg

Konsep cinta bagi mereka bukanlah hubungan antar dua orang yang penuh kasih sayang seperti di film-film drama. Apa yang mereka cari adalah pasangan yang setuju dan mau untuk menjalani hubungan jangka panjang dengan berbagai pandangan yang jelas menatap masa depan.

6. Mereka mampu membedakan perasaan tertarik biasa dan yang cinta sejati.

tumblr-mgtrtxejjx1rt6okoo1-500-fb440f14998ac2043c48f44c492d4e78.gif

Mereka tahu bahwa cinta yang menye-menye hanyalah efek hormon dan akan hilang dalam sesaat. Mereka mengerti bahwa cinta sejati akan memberikan keintiman yang berbeda serta tak akan membuat mereka jatuh cinta dengan begitu mudahnya.

7. Perempuan cerdas biasanya terkesan mengintimidasi.

emma-watson-5017-1920x1080-b2eadfb71172258fe5d05c4a89e0dfa4.jpg

Entah karena mereka merasa terancam atau insecure, banyak laki-laki yang merasa bahwa perempuan seperti ini sedikit mengerikan. Dan kadang memang ini gak baik untuk kedua belah pihak. Maka kalian para laki-laki, jika telah mampu menaklukkan hati perempuan cerdas seperti ini, jangan pernah kalian sia-siakan karena kalian tak akan tahu apakah akan ada perempuan yang memiliki otak secerdas ini.

8. Mereka tak pernah berpura-pura ketika ditanya mengenai rencana ke depan.

ffed1e7d759ee7680b31688d92155fac-ae3710958102663855efcb822c248991.jpg

Dalam waktu 5 atau 10 tahun lagi, mereka tak akan mau berasumsi tentang apa yang mereka inginkan. Mereka akan mengakui bahwa setiap orang akan berubah seiring dengan waktu berjalan. Dan faktanya, mereka akan menginspirasi orang lain untuk ikut bertumbuh dan berkembang.

9. Mereka sadar tentang kebutuhan mereka untuk berbagi dan memiliki pasangan — Hanya saja mereka masih belum mau untuk membaginya.

tumblr-mtzwmlw3911sdpf42o1-500-690ba944e0c6b542e96ea45dafc10aaf.gif

Kita tak akan pernah tahu bagaimana kehidupan seseorang akan berjalan nantinya. Dan ketidaktahuan itulah yang dimanfaatkan para perempuan ini untuk selalu menikmati hidupnya. Sebelum waktu mereka akan dihabiskan dengan suami.

10. Mereka tahu bagaimana melindungi diri sendiri.

tumblr-mebak3wgv31ra347f-fafc328e284b28cd69324baca2cb159e.gif

Sudah jelas bahwa mereka tak akan menaruh harapan pada semua laki-laki, dan juga mereka tak akan mengambil resiko dengan mempertaruhkan segala kehidupan yang telah dibangunnya dengan susah payah. Mereka akan mengevaluasi dan menentukan apakah hubungan ini pantas untuk diambil dan dipertaruhkan.

Meskipun dari luar perempuan cerdas seperti ini terlihat tangguh dan unbreakable, namun mereka tetaplah seorang perempuan. Nantinya mereka tetap akan membutuhkan seorang pendamping untuk melengkapi hidup mereka. Hanya saja saat ini belum waktu yang tepat.

Iklan

Sebelum Keburu Minder, Cowok Harus Tahu Isi Hati Cewek yang Sering Disangka Sempurna

Setiap cowok punya kriteria masing-masing untuk mendekati cewek. Ada yang punya kriteria berdasarkan fisik, pendidikan, dan keluarga.

Namun ada juga cowok yang punya kriteria unik, tidak mau diungguli banyak hal dari cewek.

Misalnya lebih kaya, lebih mapan, lebih pintar dan lain-lain.

Kalau cewek sudah dianggap unggul dalam segalanya, seakan tak ada cowok yang bisa mendekatinya dengan mudah.

Padahal, keinginan cewek-cewek ini sebenarnya sederhana.

Kali ini  coba merangkum isi hati para cewek yang seringnya dikira kelewat sempurna, sehingga bikin cowok minder untuk mendekatinya.

1. Kamu minder hanya karena kami punya mobil?

Jadi mindernya cuma gara-gara kami kemana-mana naik mobil?

2. Padahal, ini fakta yang kamu nggak tahu

 

3. Atau gara-gara kami yang kuliah di luar negeri?

4. Ini yang harus kamu tahu

5. Masalahkah kalau kami terlalu pintar?

 

6. Bukankah butuh ibu pintar untuk mendidik anak-anaknya kelak?

Bukannya baik ?

7. Pandangan kami soal pasangan sebenarnya sederhana

8. Kami bukannya tak punya kekurangan, kami hanya mampu mengeksplorasi kelebihan yang kami miliki

 

9. Kami cuma butuh sosok seperti ini

10. Bukan dia yang mundur sebelum berperang..

 

Jadi cowok-cowok masih mau minder ?

 

 

 

 

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com

The Perks Of Nyemangatin Orang Paling Bisa. Tapi Hidup Sendiri Porak Poranda ~

 

Seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat saat tengah ada masalah.

Kadang mereka hanya butuh pelukan, telinga untuk didengarkan, dan

hati untuk memahami mereka.

-anonim –

Mungkin saat ini kamu tengah mengalaminya. Menyemangati teman yang tengah gamang dengan hidupnya, sementara pada saat yang sama kamu pun tengah butuh bahu untuk bersandar. Dengan kalimat bijak nan klise yang entah begitu saja mengalir dari mulutmu, kamu berusaha menguatkan temanmu. Meski tak begitu saja mereka terlepas dari kesedihan, setidaknya mereka merasa lebih lega dengan bercerita. Lantas apa kabarnya hidupmu sendiri yang kenyataannya tak berjalan baik-baik saja?

1. Kamu tak keberatan mendengarkan teman bercerita, kadang itu menjadi hiburan sederhana

Kamu tak pernah keberatan mendengarkan cerita mereka.

Mendengarkan cerita teman sama sekali bukan beban bagimu. Tidak ada yang memaksa, apalagi menuntutmu. Itu terjadi dengan alamiah. Entah diawali dengan tanya atau sapa, kamu pun mulai tenggelam dalam percakapan yang melibatkan emosi mendalam. Menyediakan telingamu sejenak untuk teman atau sahabatmu, justru menjadi kebahagiaan tersendiri buatmu. Bukan karena cerita mereka patut untuk ditertawakan. Namun, semata karena kamu senang mereka masih mempercayaimu untuk berbagi beban.

2. Kamu percaya bahwa selalu ada makna di setiap cerita mereka. Dari cerita yang mengharu-biru, hingga yang diselingi tatap mata bahagia

Hingga mereka yang diselingi tatap mata bahagia..

Pantang bagimu menganggap cerita orang lain adalah sampah. Terkadang kamu justru menemukan pelajaran hidup dari masalah orang lain. Kamu berusaha untuk memahami bagaimana rasanya berada di posisi mereka. Kadang kamu menghadapi teman yang terisak lantaran baru saja dicampakkan oleh pacarnya, tak jarang pula kamu menemukan wajah sumringah sahabat yang tengah jatuh cinta. Kadang kamu merasakan juga warna merah jambu dari lawan bicaramu, namun tak jarang kamu ikut terlarut dalam kesedihan mereka.

3. Saat lawan bicaramu tengah terpuruk, kamu berusaha semampumu untuk menguatkan mereka. Padahal kamu sama rapuhnya

Kamu berusaha menguatkan mereka.

Bukan untuk menampakkan dirimu seolah peduli. Tapi hati nurani yang membuatmu berusaha untuk menyemangati mereka. Bahwa hidup harus berjalan, pasti ada jalan keluar, hingga ungkapan klise lainnya, jadi ungkapan andalanmu saat menyemangati. Yang sebenarnya ungkapan itu ditujukan buat kamu juga. Karena kamu sama rapuhnya dengan mereka. Entah saat ini kamu tengah berpura tidak merasa ada masalah atau sebenarnya sengaja kamu tutupi dari orang lain.

 

4. Beruntung, kamu selalu pandai menyembunyikan masalah. Bukannya tak butuh bantuan, tapi kamu merasa nyaman menyimpan ini sendirian.

Kamu lebih nyaman memendam masalahmu sendirian.

Entah kenapa selama ini kamu selalu merasa bahwa lebih baik tak menunjukkan kamu sedang dalam masalah. Karenanya kamu selalu memastikan bahwa dirimu terlihat baik-baik saja. Kamu tidak menutupinya dengan tawa lepas, melainkan air muka yang biasa saja. Bahkan cenderung santai. Padahal kamu tengah memendam masalah keluarga yang tidak ringan. Masalah perkuliahan yang bisa berujung DO, atau bahkan terancam dipecat dari perusahaan. Yang sayangnya selalu berhasil kamu tutupi dari mereka.

5. Tapi pada akhirnya bebanmu menjadi tak terasa ketika mendapati masalah mereka jauh lebih rumit dari yang kamu punya

Ketika sedang menguatkan mereka, secara bersamaan kamu pun tengah menguatkan dirimu sendiri.

Yakin, loe bisa nyemangatin teman loe?

Hidup loe aja berantakan?

Yang terjadi justru sebaliknya. Kamu menjadi pribadi yang lebih bersyukur sebab masalahmu ternyata hanya remeh-temeh jika dibandingkan dengan problematika mereka. Seketika beban hidupmu berkurang setengahnya. Karena ngepuk-puk mereka sama saja dengan ngepuk-ngepuk dirimu sendiri.

6. Menjadi cheerleader orang-orang memang nggak mudah, apalagi di tengah kehidupanmu yang tengah porak-poranda. Tapi selalu ada alasan untukmu kembali mendengar keluh-kesah mereka

Semangaaaaat!

Kamu percaya bahwa jika berusaha membahagiakan orang lain, maka Tuhan pun akan membahagiakan dirimu. Karenanya kamu tak pernah bosan menyediakan telinga untuk teman-temanmu. Menyemangati teman walau hanya dengan ungkapan klise semangat ya Atau hanya sekadar memberikan becandaan garing, sekecil apa pun kamu berusaha membuat mereka tertawa.

Kamu nggak perlu menjadi orang yang paling bahagia di dunia untuk bisa menyemangati mereka. Seberat apa pun beban hidupmu saat ini. Sekecil apa pun kamu berusaha untuk membuat mereka tertawa

 

 

Sumber : http://www.hipwee.com/

Perempuan Yang Dicintai Suamiku..

Sebuah Kisah Nyata Mengharukan Penuh Hikmah

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja..

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

Yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya..
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku..
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

============
Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin.. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario..
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,
Rima”

Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante…… aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”. Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

“Pesan” dahsyat buat para suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya…
Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri) untuk tetap mencintai suaminya…

Jangan Merasa Bersalah Saat Menjadi Ibu Bekerja Nanti. Anakmu Justru Akan Dapat 6 Hal Ini !

Antara menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya atau menjadi ibu rumah tangga yang juga bekerja tentunya merupakan pilihan setiap orang. Dan juga mungkin kesepakatan yang dibuat oleh pasangan. Tak ada yang salah dengan keduanya. Karena keduanya juga merupakan pilihan yang sama-sama baik. Tinggal bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi keluarga.

Jika ada di antara kamu, para wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja setelah menikah dan mempunyai anak, kamu tidak layak terburu-buru dicap menelantarkan keluarga. Sebab dibalik minimnya waktu untuk keluarga, banyak juga kebaikan yang bisa diajarkan kepada anak-anak oleh ibu yang bekerja.

 

1. Anakmu nanti akan terlatih untuk mandiri. Dari mengerjaan PR sampai menyiapkan baju sekolah sendiri

mengajarkan mandiri

mengajarkan mandiri

Bagi ibu yang bekerja, kemandirian tentunya hal utama yang diajarkan kepada anak-anaknya. Tanpa ibu yang selalu berada di rumah, anak-anak sejak dini diajarkan untuk bisa melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhannya sendiri. Seperti menyiapkan seragam sekolah, makan, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Semuanya dilakukan dengan kesadaran sendiri. Dengan cara ini, insting kemandirian mereka akan lebih terlatih sejak dini.

Namun meski mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya, bukan berarti ibu yang bekerja mengabaikan semua kebutuhan anak-anaknya. Sebelum mulai bekerja, kebutuhan anak-anaknya tentunya sudah disiapkan dengan baik. Sehingga pendampingan ibu yang bekerja tetap selalu ada.

 

2. Anakmu juga akan belajar darimu soal menghargai waktu. Waktu yang terbatas membuat kebersamaan bersama anak-anak menjadi lebih berkualitas.

kasih sayang selalu ada

menghargai waktu bersama

Setelah memutuskan menjadi ibu yang bekerja, konsekuensi pertama yang harus diterima adalah harus rela waktu yang berkurang untuk mendampingi buah hati. Ibu yang bekerja juga harus pintar untuk membagi antara waktu bekerja dan mengurus keluarga. Karena meskipun memutuskan bekerja, kebutuhan keluarga tetaplah yang utama. Tugas ibu pun tak ada yang bisa menggantikan.

Dari pengalaman ini, sebagai ibu yang bekerja kelak kamu bisa mengajarkan kepada anak-anakmu betapa pentingnya menghargai waktu. Setiap detik yang kamu lewatkan bersama anak-anakmu setelah berharga menjadi lebih berkualitas. Meski tak bisa selalu mendampingi, kamu harus tetap tahu kegiatan apa saja yang dilakukan anak-anakmu dalam satu hari.

 

 

3. Kamu juga mengajarkan bahwa kasih sayang ibu tak pernah luntur. Meski kuantitas waktu bertemu tak selalu teratur.

kasih sayang selalu ada

kasih sayang selalu ada

 

Tak hanya soal menghargai waktu, kamu juga bisa menunjukkan ke anak-anakmu bahwa sebagai ibu yang bekerja dan jarang di rumah tak berarti kasih sayangmu kepada mereka akan luntur. Ditambah pula dengan rasa rindu yang sering mendera saat berada di luar rumah. Seperti halnya kata pepatah, kasih ibu sepanjang hayat, hal ini juga berlaku bagi ibu-ibu yang bekerja.

Menjadi ibu yang bekerja bisa saja merupakan bentuk kasih sayang untuk anak-anaknya. Bekerja juga bisa menjadi bentuk perjuangan untuk membahagiakan anak-anak untuk hidup yang lebih layak. Ini juga bisa menjadi salah satu bukti bahwa kasih sayang ibu kepada anak-anaknya tak akan pernah lekang oleh waktu.

 

4. Pelajaran soal menentukan prioritas bisa sampai dengan baik kepada anak. Kamu sudah terbiasa memilih mana hal penting yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

pandai memilih prioritas

pandai memilih prioritas

 

Saat memutuskan untuk menjadi ibu yang bekerja, tentunya kamu dan pasangan telah memiliki pertimbangan tersendiri. Keputusan-keputusan penting untuk keluarga seperti ini, harus diambil dengan terlebih dahulu menentukan skala prioritas apa saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai ibu yang bekerja kamu juga akan terbiasa memilah hal apa saja yang harus dilakukan sebelum berangkat bekerja. Seperti menyiapkan sarapan untuk keluarga, menyiapkan kebutuhan suami dan anak sebelum berangkat ke kantor dan sekolah, serta mengantarkan anak ke sekolah. Semua harus diprioritaskan. Dari sini anak-anakmu akan belajar bagaimana cara menentukan prioritas sejak awal, karena mereka terbiasa melihatmu melakukan segala hal dengan efektif dan efisien.

 

5. Kelak anak-anakmu juga akan paham pentingnya bekerja sama dengan pasangan dalam membangun sebuah keluarga.

berumah tangga juga soal kerja sama

berumah tangga juga soal kerja sama

Saat seorang istri memutuskan bekerja, tentu ada persetujuan seorang suami dibalik keputusan tersebut. Meski penghasilan istri bukanlah yang utama menurut masyarakat kita, makna kerja sama selalu ada.

Hal baik ini tentunya tak boleh kamu lewatkan untuk diajarkan kepada anak-anakmu kelak. Nantinya mereka juga akan berumah tangga seperti ayah dan ibunya. Makna kerja sama dalam sebuah hubungan juga penting untuk diajarkan. Agar di masa depan mereka tumbuh menjadi pribadi yang menghargai orang lain.

 

6. Dengan melihatmu bekerja, anak-anakmu akan punya panutan saat mereka akan mengejar passion yang mereka ingini.

jadi panutan

jadi panutan

 

Selain untuk membantu finansial keluarga, keputusan ibu untuk bekerja juga biasanya didasari oleh upaya untuk mengejar passion. Karena meski telah menikah dan menjadi seorang ibu, passion tak harus begitu saja terkubur. Selama masih bisa membagi waktu dengan keluarga, bekerja tak selamanya menjadi keputusan yang buruk.

Hal ini bisa menjadi panutan bagi anak-anakmu ketika mereka telah dewasa nanti. Bahwa dalam mengejar passion selalu sarat dengan perjuangan dan tak mengenal kata menyerah. Mengejar passion juga soal kompromi, seperti halnya ibu bekerja yang harus tetap kompromi dengan kebutuhan keluarga dan karir.

 

Selama bisa membagi waktu dengan baik, ibu yang bekerja tak perlu terlalu sering merasa bersalah karena meninggalkan anak terlalu sering. Toh masih banyak kebaikan yang juga bisa diajarkan. Semoga pilihan yang diambil antara menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dan ibu yang bekerja benar-benar pilihan terbaik ya..

Karena Kalau Ada Batasnya, Ya Bukan Sabar Namanya…

“Kesel deh aku. Tuntutan klien tuh gak masuk akal. Mending kalau dia tahu maunya apa. Lah ini? Clueless juga.”

“Ya udah. Sabar yaaa…”

Anjuran untuk sabar sudah seperti gerai milk tea yang kini bisa ditemukan di mana saja. Dia datang dalam setiap kesempatan. Seperti jadi jawaban atas semua masalah dan kegundahan. Yeah, memang kata yang satu ini menyejukkan. Dia menguatkan — memberi harapan.

Namun seperti hal lain di dunia, haruskah sabar ini ada batasnya? Atau memang diainfinite — tak perlu batasan dan harus lapang bentuknya?

 

 

Sabar sebenarnya bentuk lain dari percaya. Yakin. Semesta tidak akan setega itu mempercundangi kita

Yakin. Semesta tak akan setega itu mempercundangi kita

Sabar, sebenarnya tidak lagi sesederhana menahan emosi. Berusaha tidak meledak setiap hal buruk menghampiri. Karena jika hanya ini yang diyakini berarti pemahaman kita akan sabar masih dangkal sekali. Seperti anak kecil yang sedang belajar menjumlahkan angka lewat bantuan jari, semestinya kesabaran tidak ditelan bulat-bulat macam ini.

Selepas makin banyak hal yang menghantam kedewasaan kita, ada anggukan kecil saat bicara bahwa sabar adalah soal percaya.

Sabar adalah membiarkan semesta mengatur jalannya.

Meski di dalamnya kita mesti berkali-kali menghela nafas dan menggaruk kepala.

Sabar, adalah tentang tak pernah melepaskan genggaman pada Yang Maha.

Meski kita belum tahu ke mana Ia akan mengarahkan langkah yang sedang dihela.

 

 

Untuk beberapa hal di dunia batas membuat kewarasan terjaga. Supaya kita tahu diri. Agar kita tak lupa menghargai diri sendiri

Batas membuat kita tahu diri. Agar tak lupa menghargai diri sendiri

Seorang kawan pernah mengingatkan saat saya jatuh cinta begitu dalam. Kata-katanya unik dan sampai sekarang masih terkenang,

“Walau cinta, tetap harus ada batasnya. Simpan tenaga. Siapa tahu dia pergi dan kamu harus bangun sendiri?”

Batas juga kembali muncul dan diamini dalam ikatan perkawanan. Konon persahabatan yang sehat adalah persahabatan yang tetap menghargai batas pribadi. Bebas memberi masukan, namun tetap membiarkannya jadi tangguh sendirian. Tetap harus ada sisi-sisi hidup yang tidak dibuka secara blak-blakan.

Konsep batas terlihat jauh lebih nyata saat kita bicara soal sebanyak apa harus memberi. Bahkan dalam urusan hati. Walau sedang sedalam itu menitipkan rasa kita mesti peka untuk membaca apakah yang dilakukan ini memang sepadan hasilnya. Jangan sampai stok di hati habis sia-sia. Sampai tak lagi yang tersisa bagi dia yang layak dibukakan pintu setelahnya.

Bagi beberapa hal di dunia, ‘batas’ memang membuat kewarasan tetap terjaga. Sebab sesungguhnya kita ini rapuh sebagai manusia.

 

 

Tapi sabar itu spesies berbeda. Dia datang dengan keanggunan yang membuat kita percaya — jika ada batasnya, ya bukan sabar namanya….

Jika ada batasnya, bukan sabar namanya

Sabar, anehnya punya charm yang lain dari biasa. Dia membuat kita percaya bahwa semua bisa dihadapi tanpa harus melibatkan derap kencang di dada. Sabar, membuat hati ini dua kali lebih lapang dari biasa. Bahkan saat otak dan hati sinkron mood nya dia bisa berubah jadi lapangan golf yang sangat luas penampangnya.

Setiap rasa ingin menyalahkan keadaan datang, setiap jeritan di hati mulai menuntut untuk didengarkan — kesabaran membuat segalanya teredam. Umpatan yang bisa terdengar sangat tidak menyenangkan kembali sanggup ditelan.

Maka, saat rasa tidak mampu muncul. Atau ketika merasa lelah sekali dan ingin mundur — hati ini seharusnya sudah lebih peka untuk diajak bekerjasama. Dia semestinya jujur menjawab pertanyaan sederhana.

Sudahkah kita benar-benar sabar? Apakah kesabaran ini sudah benar?

 

Sebab seharusnya kesabaran yang baik tidak membuat kita menyerah begitu saja. Kesabaran yang sesungguhnya membuat hati kita jadi perasa. Tidak kebas dan menutup mata pada tantangan yang memang harus dihadapi jika ingin lulus sempurna jadi manusia dewasa.

 

Jangan jadikan sabar kambing hitam untuk semua bendera putih yang kita keluarkan. Karena sebenarnya jika tidak bisa sabar sampai terurai masalahnya — ya bukan sabar namanya :)

Bersabarlah,, Hanya Sedang Jatuh Saat Ini..

Kamu lupa

Seperti orang mati rasa belakangan. Pulang kantor, kuliah, pulang kerumah, buka laptop mengerjakan tugas, tidur hanya 2 – 3 jam, bangun, beranjak kekantor , bekerja, pulang, kuliah. Sudah.

Di tengah waktu “jaga kandang” siang ini, tiba-tiba lagu ini terputar di aplikasi pemutar musik. Aku tersenyum. Familiar sekali rasanya. Dan, membebaskan. Otak pun jadi lebih lancar berselancar di atas keyboard demi menuliskan pikiran yang berkecamuk di kepala, menuntut minta segera dikeluarkan.

Tentu saja aku ingat bagaimana tampangnya waktu menirukan lagu ini. Betapa kita sempat memuji bagusnya  vokalis yang hingga kini namanya tetap tak kamu tahu. Mengingatnya memang membuat rindu. Tapi mengkhidmati rindu ternyata jauh lebih baik dibanding berusaha menghapusnya dari jejak kehidupan. Seperti yang dengan jumawa kamu lakukan beberapa saat ke belakang.

Menerima kenyataan memang tidak mudah. Berbahagia atas kebahagiaannya juga tidak bisa dilakukan tanpa payah.

Namun menghapusnya, menutup segala akses informasi dari dan padanya juga tidak membantu memperbaiki keadaan.

Yang ada, aku justru jadi orang linglung yang kerap merasa hilang arah.

Legowo, nduk. Legowo. 

Perjuangan ini bukan lagi tentangnya atau mengalahkan siapapun demi memenangkan hatinya. Tidak. Ini tentang aku, tentang bagaimana aku bisa menerima kenyataan.

Tentang bagaimana aku harus meletakkan diriku dalam kompartemen “lalu” tanpa harus sering melongokkan kepala lagi ke dalamnya. Aku tidak lagi peduli padanya. Walaupun itu dusta. Aku masih sangat peduli padamu. Hanya saja, kini aku tahu bahwa peduli tidak harus diungkapkan lewat kata-kata ataupun temu.

Aku yang sekarang memang aku yang kalah saing, merasa tidak punya hal yang membuat aku bisa dicintai, banyak menyakiti, dan sedang tidak percaya kalau aku bisa jatuh cinta sedalam itu lagi. Pahit ya ?

Tapi, aku yang dipenuhi kepahitan ini juga pribadi yang sama yang sedang belajar untuk jadi orang lebih baik, lebih ikhlas, lebih bermanfaat, lebih bahagia — tanpa atau dengan ada pasangan yang mendampingi.

Kepahitan ini akan jadi manis nanti. Pada masanya..  :’) ..Aamin..